Friday, May 18, 2018

Belajar bahasa arab di madrasah dinniyah nuurul hidayah

ۡۡ                  أَقْسَامُ الْكَلِمَ
Aqsam al-Kalimah (Pembagian Kata)

                              أَقْسَامُ الْكَلِمَةُ
PEMBAGIAN KATA

Semua bahasa manusia tersusun dari tiga komponen dasar yaitu:

1. Satuan bunyi yang disebut "huruf" atau "abjad".

Contoh: م - س - ج - د

2. Susunan huruf yang memiliki arti tertentu yang disebut "kata".

Contoh: مَسْجِدٌ (= masjid)

3. Rangkaian kata yang mengandung pikiran yang lengkap yang disebut "kalimat".

Contoh: أُصَلِّيْ فِي الْمَسْجِدِ (= saya shalat di masjid)

Dalam tata bahasa Arab, "kata" dibagi ke dalam tiga golongan besar:

1. ISIM ( اِسْم ) atau "kata benda". Contoh: مَسْجِد (= masjid)

2. FI'IL ( فِعْل ) atau "kata kerja". Contoh: أُصَلِّيْ (= saya shalat)

3. HARF ( حَرْف ) atau "kata tugas". Contoh: فِيْ (= di, dalam)

Penggunaan istilah Kata Benda, Kata Kerja dan Kata Tugas dalam tata bahasa Indonesia, tidak sama persis dengan Isim, Fi'il dan Harf dalam tata bahasa Arab. Namun bisalah dipakaiuntuk sekadar mendekatkan pengertian.

                       اِسْم عَلَمُ
          ISIM 'ALAM
   (Kata Benda Nama)

Dalam golongan Isim, ada yang disebut dengan Isim 'Alam yaitu Isim yang merupakan nama dari seseorang atau sesuatu. Di bawah ini beberapa contoh Isim 'Alam (nama), bacalah dengan suara nyaring dan jelas satu persatu:

مُحَمَّد - آدَم - إِدْرِيْس - نُوْح - إِبْرَاهِيْم - إِسْمَاعِيْل - إِسْحَاق - يَعْقُوْب - يُوْسُف - مُوْسَى - سُلَيْمَان - يُوْنُس - عِيْسَى - مَرْيَم - خَدِيْجَة - عَائِشَة - فَاطِمَة - عُمَر - عُثْمَان - جِبْرِيْل - مِيْكَال - لُقْمَان - زَيْد - فِرْعَوْن - قَارُوْن - إِبْلِيْس - عِفْرِيْت - مَكَّة - مَدِيْنَة

Cari dan tuliskanlah Isim-isim Alam yang lain yang anda temukan danketahui!

                      مُذَكَّر - مُؤَنَّث
MUDZAKKAR (Laki-laki) - MUANNATS (Perempuan)

Dalam tata bahasa Arab, dikenal adanya penggolongan Isim ke dalam Mudzakkar (laki-laki) atau Muannats (perempuan). Penggolongan ini ada yang memang sesuai dengan jenis kelaminnya (untuk manusia dan hewan) dan adapula yang merupakan penggolongan secara bahasa saja(untuk benda dan lain-lain).

Contoh Isim MudzakkarContoh Isim Muannatsعِيْسَى(= 'Isa)مَرْيَم

(= Maryam)

اِبْنٌ

(= putera)

بِنْتٌ(= puteri)بَقَرٌ(= sapi jantan)بَقَرَةٌ(= sapi betina)بَحْرٌ(= laut)رِيْحٌ(= angin)

Dari segi bentuknya, Isim Muannats biasanya ditandai dengan adanya tiga jenis huruf di belakangnya yaitu:
a) Ta Marbuthah ( ة ). Misalnya:فَاطِمَة (=Fathimah), مَدْرَسَة(=sekolah)
b) Alif Maqshurah ( ى ). Misalnya:سَلْمَى (=Salma), حَلْوَى(=manisan)
c) Alif Mamdudah ( اء ). Misalnya:أَسْمَاء (=Asma'),  سَمْرَاء(=pirang)

Namun adapula Isim Muannats yang tidak menggunakan tanda-tanda di atas. 
Misalnya: رِيْحٌ (= angin), نَفْسٌ (= jiwa, diri), شَمْسٌ (= matahari)

Bahkan ada pula beberapa Isim Mudzakkar yang menggunakan Ta Marbuthah.
Contoh: حَمْزَة (= Hamzah),طَلْحَة (= Thalhah), مُعَاوِيَة (= Muawiyah)

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal kosakata yang banyak

             مُفْرَد - مُثَنَّى - جَمْع
MUFRAD (Tunggal) - MUTSANNA (Dual) - JAMAK

Dari segi bilangannya, bentuk-bentukIsim dibagi tiga:

1) ISIM MUFRAD (tunggal) kata benda yang hanya satu atau sendiri.
2) ISIM MUTSANNA (dual) kata benda yang jumlahnya dua.
3) ISIM JAMAK (plural) atau kata benda yang jumlahnya lebih dari dua.

Isim Mutsanna (Dual) bentuknya selalu beraturan yakni diakhiri dengan huruf Nun Kasrah ( نِ ), baik untuk Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats. Contoh:

MufradTarjamahMutsannaTarjamahرَجُلٌ= seorang laki-lakiرَجُلاَنِ= dua orang laki-lakiجَنَّةٌ= sebuah kebunجَنَّتَانِ= dua buah kebunمُسْلِمٌ= seorang muslimمُسْلِمَانِ= dua orang muslimمُسْلِمَةٌ= seorang muslimahمُسْلِمَتَانِ= dua orang muslimah

Adapun Isim Jamak, dari segi bentuknya terbagi dua macam:

1. JAMAK SALIM ( جمْع سَالِم ) yang bentuknya beraturan:

MufradTarjamahJamakTarjamahاِبْنٌ= seorang putera

بَنُوْنَ

= putera-puteraبِنْتٌ= seorang puteriبَنَاتٌ= puteri-puteriمُسْلِمٌ= seorang muslimمُسْلِمُوْنَ= muslim-muslimمُسْلِمَةٌ= seorang muslimahمُسْلِمَاتٌ= muslimah-muslimah

2. JAMAK TAKSIR (جَمْع تَكْسِيْر ) yang bentuknya tidak beraturan:

MufradTarjamahJamakTarjamah

رَسُوْلٌ

= seorang rasulرُسُلٌ= rasul-rasulعَالِمٌ= seorang alimعُلَمَاءُ= orang-orang alimرَجُلٌ= seorang laki-lakiرِجَالٌ= para laki-lakiاِمْرَأَةٌ= seorang perempuanنِسَاءٌ= perempuan-perempuan

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal semua kosa kata yang baru anda temukan!

اِسْم إِشَارَة
ISIM ISYARAH (Kata Tunjuk)

Untuk lebih memahami penggunaan Mudzakkar dan Muannats, serta Mufrad, Mutsanna dan Jamak dalam pengelompokan Isim, kita akan mempelajari tentang Isim Isyarah atau Kata Tunjuk dan Isim Maushul atau Kata Sambung.

Pertama, Isim Isyarah. Pada dasarnya, ada dua macam Kata Tunjuk:

1) Isim Isyarah atau Kata Tunjuk untuk yang dekat: هَذَا (=ini).
Contoh dalam kalimat: هَذَا كِتَابٌ(= ini sebuah buku)
2) Isim Isyarah atau Kata Tunjuk untuk yang jauh: ذَلِكَ (=itu).
Contoh dalam kalimat: ذَلِكَ كِتَابٌ(= itu sebuah buku)

Bila Isim Isyarah itu menunjuk kepada Isim Muannats maka:

1) هَذَا menjadi: هَذِهِ (=ini). Contoh:هَذِهِ مَجَلَّةٌ (= ini sebuah majalah)

2) ذَلِكَ menjadi: تِلْكَ (=itu). Contoh:تِلْكَ مَجَلَّةٌ (= itu sebuah majalah)

Adapun bila Isim yang ditunjuk itu adalah Mutsanna (Dual), maka:

1) هَذَا menjadi هَذَانِ. Contoh: هَذَانِ كِتَابَانِ (= ini dua buah buku)

2) هَذِهِ menjadi هَتَانِ. Contoh: هَتَانِ مَجَلَّتَانِ (= ini dua buah majalah)

3) ذَلِكَ menjadi ذَانِكَ. Contoh: ذَانِكَ كِتَابَانِ (= itu dua buah buku)

4) تِلْكَ menjadi تَانِكَ. Contoh: تَانِكَ مَجَلَّتَانِ (= itu dua buah majalah)

Sedangkan bila Isim yang ditunjuk itu adalah Jamak (lebih dari dua), maka baik Mudzakkar maupun Muannats, semuanya menggunakan: هَؤُلاَءِ (= ini) untuk menunjuk yang dekat; danأُلَئِكَ (= itu) untuk menunjuk yang jauh. Contoh:

هَؤُلاَءِ كُتُبٌأُلَئِكَ كُتُبٌ(= ini adalah buku-buku)(= itu adalah buku-buku)هَؤُلاَءِمَجَلاَّتٌأُلَئِكَ مَجَلاَتٌ (= ini adalah majalah-majalah)(= itu adalah majalah-majalah)

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal semua kosa kata yang baru anda temukan!

                                        اِسْم مَوْصُوْل
ISIM MAUSHUL (Kata Sambung)

Isim Maushul (Kata Sambung) adalah Isim yang berfungsi untuk menghubungkan beberapa kalimat atau pokok pikiran menjadi satu kalimat. Dalam bahasa Indonesia, Kata Sambung semacam ini diwakili oleh kata: "yang".

Bentuk asal/dasar dari Isim Maushul adalah: الَّذِيْ (=yang). Perhatikan contoh penggunaan Isim Maushul dalam menggabungkan dua kalimat di bawah ini:

Kalimat I

جَاءَ الْمُدَرِّسُ

= datang guru ituKalimat IIاَلْمُدَرِّسُ يَدْرُسُ الْفِقْهَ= guru itu mengajar FiqhKalimat IIIجَاءَ الْمُدَرِّسُ الَّذِيْ يَدْرُسُ الْفِقْهَ

= datang guru yang mengajar Fiqh

Kalimat III menghubungkan Kalimat I dan II dengan Isim Maushul: الَّذِيْ

Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Muannats maka: الَّذِيْ menjadi:الَّتِيْ

جَاءَتِ الْمُدَرِّسَةُ الَّتِيْ تَدْرُسُ الْفِقْهَ

= datang guru (pr) yang mengajar Fiqh itu

Bila Isim Maushul itu digunakan untuk Mutsanna (Dual) maka:

1) الَّذِيْ menjadi:  الَّذَانِsedangkan  الَّتِيْ menjadi:  الَّتَانِ

جَاءَ الْمُدَرِّسَانِ الَّذَانِ يَدْرُسَانِ الْفِقْهَ

= datang dua orang guru (lk) yang mengajar Fiqh itu

جَاءَتِ الْمُدَرِّسَتَانِ الَّتَانِ تَدْرُسَانِ الْفِقْهَ

= datang dua orang guru (pr) yang mengajar Fiqh

Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Jamak maka:

1) الَّذِيْ menjadi:  الَّذِيْنَsedangkan: الَّتِيْ  menjadi:اللاَّتِيْ/اللاَّئِيْ

جَاءَ الْمُدَرِّسُوْنَ الَّذِيْنَ يَدْرُسُوْنَ الْفِقْهَ= datang guru-guru (lk) yang mengajar Fiqh ituجَاءَتِ الْمُدَرِّسَاتُ اللاَّتِيْ يَدْرُسْنَ الْفِقْهَ= datang guru-guru (pr) yang mengajar Fiqh itu

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal semua kosa kata yang baru anda temukan

                                    نَكِرَة - مَعْرِفَة
NAKIRAH (Umum) - MA'RIFAH (Khusus)

Menurut penunjukannya, Isim dapat dibagi dua:

1) ISIM NAKIRAH atau kata bendabentuk umum atau tak dikenal (tak tentu).

2) ISIM MA'RIFAH atau kata bendabentuk khusus atau dikenal (tertentu).

Isim Nakirah merupakan bentuk asal dari setiap Isim, biasanya ditandai dengan huruf akhirnya yang bertanwin ( ً  ٍ  ٌ  ). Sedangkan Isim Ma'rifah biasanya ditandai dengan huruf Alif-Lam ( ال ) di awalnya.

Contoh Isim Nakirah: بَيْتٌ  (= sebuah rumah), وَلَدٌ  (= seorang anak)

Contoh Isim Ma'rifah: اَلْبَيْتُ  (= rumah itu), اَلْوَلَدُ (= anak itu)

Coba bandingkan dan perhatikan perbedaan makna dan fungsi antara Isim Nakirah dan Isim Ma'rifah dalam dua buah kalimat di bawah ini:

ذَلِكَ بَيْتٌ. اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ.

= Itu sebuah rumah. Rumah itu baru.

جَاءَ وَلَدٌ. اَلْوَلَدُ مُؤَدِّبٌ.

= Datang seorang anak. Anak itu sopan.

Selain Isim yang berawalan Alif-Lam, yang juga termasuk Isim Ma'rifah adalah:

1. ISIM 'ALAM (Nama). Semua Isim 'Alam termasuk Isim Ma'rifah, meskipun diantara Isim 'Alam tersebut ada yang huruf akhirnya bertanwin.

Contoh:  أَحْمَدُ  (= Ahmad), عَلِيٌّ (= Ali), مَكَّةُ (= Makkah)

2. ISIM DHAMIR (Kata Ganti). Yaitu kata yang mewakili atau menggantikan penyebutan sesuatu atau seseorang atau sekelompok benda/orang.

Contoh: أَنَا  (= aku, saya), نَحْنُ (= kami, kita), هُوَ (= ia, dia)

Isim Dhamir ini kelak akan dibahas tersendiri secara terinci.

صِفَة-مَوْصُوْف / مُضَاف-مُضَاف إِلَيْهِ / مُبْتَدَأ-خَبَر 
SIFAT - MAUSHUF (Sifat dan Yang Disifati)
MUDHAF - MUDHAF ILAIH (Kata Majemuk)
MUBTADA' - KHABAR (Subjek dan Predikat)

Berkaitan dengan Nakirah dan Ma'rifah, khususnya penggunaan Alif-Lam di awal kata atau baris Tanwin di akhir kata, ada beberapa pola kalimat (rangkaian kata) yang perlu kita ketahui perbedaannya dengan baik. Yaitu:

1. SHIFAT ( صِفَة ) dan MAUSHUF (مَوْصُوْف )
Bila rangkaian dua buah Isim atau lebih, semuanya dalam keadaan Nakirah (tanwin) atau semuanya dalam keadaan Ma'rifah (alif-lam) maka kata yang di depan dinamakan Maushuf (yang disifati) sedang yang di belakang adalah Shifat.

بَيْتٌ جَدِيْدٌ

= (sebuah) rumah baru

اَلْبَيْتُ الْجَدِيْدُ

= rumah yang baru

بَيْتٌ كَبِيْرٌ وَاسِعٌ

= (sebuah) rumah besar lagi luas

اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ الْوَاسِعُ

= rumah yang besar lagi luas

2. MUDHAF ( مُضَاف ) dan MUDHAF ILAIH ( مُضَاف إِلَيْه )

Rangkaian dua buah Isim atau lebih, satu kata di depannya dalam keadaan Nakirah (tapi tanpa tanwin)dinamakan Mudhaf sedang kata yang paling belakang adalah Ma'rifah dinamakan Mudhaf Ilaih. Contoh:

بَيْتُ الْمُدَرِّسِ(=buku guru)بَيْتُ زَيْدٍ(=rumah Zaid) --> Zaid = Isim 'Alam (Ma'rifah)مِفْتَاحُ بَيْتِ الْمُدَرِّسِ(=kunci rumah guru)

Bila Mudhaf berupa Isim Mutsanna atau Jamak Mudzakkar Salim maka huruf Nun di akhirnya dihilangkan. Perhatikan contoh di bawah ini:

مُسْلِمَا الْجَاوِيِّ(=dua muslim Jawa) مُسْلِمُو الْجَاوِيِّ(=musliminJawa) 

مُسْلِمَا dari kata مُسْلِمَانِ (=dua orang muslim) --> Mutsanna
مُسْلِمُو dari kata مُسْلِمُوْنَ(=orang-orang muslim) --> Jamak Salim

Baik Shifat-Maushuf maupun Mudhaf-Mudhaf Ilaih, bukanlah merupakan sebuah JUMLAH MUFIDAH (جُمْلَة مُفِيْدَة) atau Kalimat Sempurna.Berikut ini kita akan mempelajari sebuah pola Jumlah Mufidah (Kalimat Sempurna).

3. MUBTADA' ( مُبْتَدَأ ) dan KHABAR ( خَبَر )
Sebuah JUMLAH ISMIYYAH (جُمْلَةاِسْمِيَّة) atau Kalimat Nominal (kalimat sempurna yang semua katanya adalah Isim), selalu terdiri dari dua bagian kalimat yakni Mubtada' (Subjek) dan Khabar (Predikat). Pada umumnya seluruh Mubtada' dalam keadaan Ma'rifah sedangkan seluruh Khabar (Predikat) dalam keadaan Nakirah. Perhatikan contoh kalimat-kalimat di bawah ini:

Jumlah IsmiyyahMubtada'Khabarاَلْبَيْتُ كَبِيْرٌاَلْبَيْتُكَبِيْرٌ

(=rumah itu besar)

(=rumah itu)

(=besar)

اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ غَالٌاَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُغَالٌ

(=rumah yang besar itu mahal)

(=rumah yang besar itu)

(=mahal)بَيْتُ الْكَبِيْرِ جَمِيْلٌبَيْتُ الْكَبِيْرِجَمِيْلٌ(=rumah besar itu indah)(=rumah besar itu)(= indah)مِفْتَاحُ بَيْتِ الْكَبِيْرِ صَغِيْرٌمِفْتَاحُ بَيْتِ الْكَبِيْرِصَغِيْرٌ(=kunci rumah besar itu kecil)(=kunci rumah besar itu)(=kecil)

Dari contoh kalimat di atas diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Baik Mubtada' maupun Khabar, bisa terdiri dari satu kata ataupun lebih.
2. Mubtada' pada umumnya selalu dalam keadaan Ma'rifah.
3. Khabar pada umumnya selalu dalam keadaan Nakirah. 
4. Mubtada' yang terdiri dari beberapa kata bisa merupakan Shifat-Maushuf (contoh kalimat II) maupun Mudhaf-Mudhaf Ilaih (contoh kalimat III dan IV)

Sebagai penutup, untuk mengingat-ingat perbedaan antara Shifat-Maushuf, Mudhaf-Mudhaf Ilaih dan Mubtada'-Khabar, perhatikanlah perbedaan bentuk dan makna masing-masing pola tersebut dalam kalimat sederhana di bawah ini:

Shifat-MaushufMudhaf-Mudhaf IlaihMubtada'-Khabar

بَيْتٌ جَدِيْدٌ

بَيْتُ الْجَدِيْدِ

اَلْبَيْتُ جَدِيْدٌ

(sebuah rumah baru)

(rumah baru)

(rumah itu baru)

اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ

بَيْتُ الْكَبِيْرِ

اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ

(rumah yang besar)

(rumah besar)

(rumah itu besar)

Selanjutnya kita akan membahas tentang Isim Dhamir atau Kata Ganti.

                                     ضَمِيْر
DHAMIR (Kata Ganti)

Dhamir atau "kata ganti" ialah Isim yang berfungsi untuk menggantikan atau mewakili penyebutan sesuatu/seseorang maupun sekelompok benda/orang. Dhamir termasuk dalam golongan Isim Ma'rifah.

Contoh:

أَحْمَدُ يَرْحَمُ اْلأَوْلاَدَ = Ahmadmenyayangi anak-anak
هُوَ يَرْحَمُهُمْ = Dia menyayangimereka

Pada contoh di atas, kata أَحْمَدُdiganti dengan هُوَ (=dia), sedangkanالأَوْلاَد (=anak-anak) diganti dengan هُمْ (=mereka). 
Kata هُوَ dan هُمْ dinamakan Dhamir atau Kata Ganti.

Menurut fungsinya, ada dua golongan Dhamir yaitu:

1) DHAMIR RAFA' ( ضَمِيْر رَفْع ) yang berfungsi sebagai Subjek.
2) DHAMIR NASHAB ( ضَمِيْرنَصْب ) yang berfungsi sebagai Objek.

Dhamir Rafa' dapat berdiri sendiri sebagai satu kata, sedangkan Dhamir Nashab tidak dapat berdiri sendiri atau harus terikat dengan kata lain dalam kalimat.

Dalam kalimat: هُوَ يَرْحَمُهُمْ (=Dia menyayangi mereka): 
- Kata هُوَ (=dia) adalah Dhamir Rafa', sedangkan:
- Kata هُمْ (=mereka) adalah Dhamir Nashab.

                                  ضَمِيْر رَفْع
DHAMIR RAFA' (Kata Ganti Subjek)

Semua Dhamir dapat dikelompokkan menjadi tiga macam:

1. MUTAKALLIM ( مُتَكَلِّم ) atau pembicara (orang pertama). 
a) Mufrad: أَنَا (= aku, saya) untuk Mudzakkar maupun Muannats.
b) Mutsanna/Jamak: نَحْنُ (= kami, kita) untuk Mudzakkar maupun Muannats.

2. MUKHATHAB ( مُخَاطَب ) ataulawan bicara (orang kedua). Terdiri dari:
a) Mufrad: أَنْتَ (= engkau) untuk Mudzakkar dan أَنْتِ untuk Muannats.
b) Mutsanna: أَنْتُمَا (= kamu berdua)untuk Mudzakkar maupun Muannats. 
c) Jamak: أَنْتُمْ (= kalian) untuk Mudzakkar dan أَنْتُنَّ untuk Muannats.

3. GHAIB ( غَائِب ) atau tidak beradadi tempat (orang ketiga). Terdiri dari:
a) Mufrad: هُوَ (= dia) untuk Mudzakkar dan هِيَ untuk Muannats.
b) Mutsanna: هُمَا (= mereka berdua)untuk Mudzakkar maupun Muannats. 
c) Jamak: هُمْ (= mereka) untuk Mudzakkar dan هُنَّ untuk Muannats.

Hafalkanlah keduabelas bentuk Dhamir Rafa' di atas beserta artinya masing-masing sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya!

                             ضَمِيْر نَصْب
DHAMIR NASHAB (Kata Ganti Objek)

Dhamir Nashab adalah turunan (bentuk lain) dari Dhamir Rafa' yang terdiri dari:

Dhamir Rafa'

Dhamir Nashab

 

Dhamir Rafa'

Dhamir Nashab

أَنَا

ي

 أَنْتُنَّكُنَّنَحْنُنَا هُوَهُأَنْتَكَ هِيَهَاأَنْتِكِ هُمَاهُمَاأَنْتُمَاكُمَا هُمْهُمْأَنْتُمْكُمْ هُنَّهُنَّ

Dhamir Nashab berfungsi sebagai objek dan tidak dapat berdiri sendiri; ia terikat dengan kata lain dalam suatu kalimat, baik itu dengan Isim, Fi'il ataupun Harf.

1) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Isim dalam kalimat:

أَنَا مُسْلِمٌ، دِيْنِيَ اْلإِسْلاَمُ= saya seorang muslim,agamaku Islamنَحْنُ مُسْلِمُوْنَ، دِيْنُنَااْلإِسْلاَمُ= kami orang-orang muslim, agama kami Islamأَنْتَ مُسْلِمٌ، دِيْنُكَاْلإِسْلاَمُ= engkau (lk) seorang muslim, agamamu Islamأَنْتِ مُسْلِمَةٌ، دِيْنُكِاْلإِسْلاَمُ= engkau (pr) seorang muslim, agamamu Islam

2) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Fi'il dalam kalimat:

أَنْتُمَا مُسْلَمَانِ، اَللهُيَرْحَمُكُمَا= kamu berdua adalahmuslim, Allah merahmatikamu berduaأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، اَللهُيَرْحَمُكُمْ= kalian (lk) adalahmuslimun, Allah merahmatikalianأَنْتُنَّ مُسْلِمَاتٌ، اَللهُيَرْحَمُكُنَّ= kalian (pr) adalahmuslimat, Allah merahmatikalianهُوَ مُسْلِمٌ، اَللهُ يَرْحَمُهُ= dia (lk) adalah muslim, Allah merahmatinya

3) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Harf dalam kalimat:

هِيَ مُسْلِمَةٌ،لَهَا رَحْمَةُ اللهِ= dia (pr) adalah seorang muslimah,untuknya rahmat Allahهُمَا مُسْلِمَانِ،لَهُمَا رَحْمَةُ اللهِ= mereka berdua adalah muslim,untuk mereka berdua rahmat Allahهُمْ مُسْلِمُوْنَ،لَهُمْ رَحْمَةُ اللهِ= mereka (lk) adalah muslimin,untuk merekarahmat Allahهُنَّ مُسْلِمَاتٌ،لَهُنَّ رَحْمَةُ اللهِ= mereka (pr) adalah muslimat,untuk merekarahmat Allah

Gabungan Dhamir Nashab yang melekat pada Isim akan membentuk Isim Ma'rifah dengan pola Mudhaf-Mudhaf Ilaih dimana Isim di depannya merupakan Mudhaf sedang Dhamir Nashab di belakangnya merupakan Mudhaf Ilaih.

بَيْتِيْ (=rumahku) --> بَيْتٌ[Mudhaf] + ي [Mudhaf Ilaih]
كِتَابُكَ (=bukumu) --> كِتَابٌ[Mudhaf] + كَ [Mudhaf Ilaih]
مَدْرَسَتُهُمْ (=sekolah mereka) -->مَدْرَسَةٌ [Mudhaf] + هُمْ [Mudhaf Ilaih]

Hafalkanlah semua Dhamir Nashab di atas beserta artinya masing-masing sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya!

فِعْل
FI'IL (Kata Kerja)

Fi'il atau Kata Kerja dibagi atas dua golongan besar menurut waktu terjadinya:
1. FI'IL MADHY ( فِعْل مَاضِي ) atau Kata Kerja Lampau.
2. FI'IL MUDHARI' ( فِعْل مُضَارِع) atau Kata Kerja Kini/Nanti.

Baik Fi'il Madhy maupun Fi'il Mudhari', senantiasa mengalami perubahan bentuk sesuai dengan jenisDhamir dari Fa'il ( فَاعِل ) atau Pelaku pekerjaan itu. 
Untuk Fi'il Madhy, perubahan bentuk tersebut terjadi di akhir kata, sedangkan untuk Fi'il Mudhari', perubahan bentuknya terjadi di awal kata dan di akhir kata.

DhamirFi'il MadhyFi'il Mudhari'Tarjamahأَنَا

فَعَلْتُ

أَفْعَلُ= saya mengerjakanنَحْنُفَعَلْنَانَفْعَلُ= kami mengerjakanأَنْتَفَعَلْتَتَفْعَلُ= engkau (lk) mengerjakanأَنْتِفَعَلْتِتَفْعَلِيْنَ= engkau (pr) mengerjakanأَنْتُمَافَعَلْتُمَاتَفْعَلاَنِ= kamu berdua mengerjakanأَنْتُمْفَعَلْتُمْتَفْعَلُوْنَ= kalian (lk) mengerjakanأَنْتُنَّفَعَلْتُنَّتَفْعَلْنَ= kalian (pr) mengerjakanهُوَفَعَلَيَفْعَلُ= dia (lk) mengerjakanهِيَفَعَلَتْتَفْعَلُ= dia (pr) mengerjakanهُمَافَعَلاَيَفْعَلاَنِ= mereka berdua (lk) mengerjakanهُمَافَعَلَتَاتَفْعَلاَنِ= mereka berdua (pr) mengerjakanهُمْ

فَعَلُوْا

يَفْعَلُوْنَ= mereka (lk) mengerjakanهُنَّفَعَلْنَيَفْعَلْنَ= mereka (pr) mengerjakan

Perlu diketahui, bahwa dalam sebuah JUMLAH FI'LIYYAH ( جُمْلَة فِعْلِيَّة) atau Kalimat Verbal (kalimat sempurna yang mengandung Kata Kerja), letak Fa'il (Pelaku) bisa di depan dan bisa pula di belakang Fi'il (Kata Kerja).

1) Untuk Dhamir Ghaib atau "orang ketiga" ( هُنَّ - هُمْ - هُمَا - هِيَ -هُوَ ).

a. Bila Fa'il mendahului Fi'il maka perubahan bentuk dari Fi'il tersebut harus mengikuti ketentuan Mudzakkar/Muannats dan Mufrad/Mutsanna/Jamak.

Contoh Jumlah Fi'liyyah dengan Fi'il Madhy yang terletak setelah Fa'il:

اَلْمُسْلِمُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ

= muslim itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَةُ دَخَلَتِ الْمَسْجِدَ

= muslimah itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَانِ دَخَلاَ الْمَسْجِدَ

= dua muslim itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَتَانِ دَخَلَتَا الْمَسْجِدَ

= dua muslimah itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمُوْنَ دَخَلُوا الْمَسْجِدَ

= kaum muslimin memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَاتُ دَخَلْنَ الْمَسْجِدَ

= kaum muslimat memasuki masjid

Contoh Jumlah Fi'liyyah dengan Fi'il Mudhari' yang terletak setelah Fa'il:

اَلْمُسْلِمُ يَدْخُلُ الْمَسْجِدَ

= muslim itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَةُ تَدْخُلُ الْمَسْجِدَ

= muslimah itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَانِ يَدْخُلاَنِ الْمَسْجِدَ

= dua muslim itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَتَانِ تَدْخُلاَنِ الْمَسْجِدَ

= dua muslimah itu memasuki masjid

اَلْمُسْلِمُوْنَ يَدْخُلُوْنَ الْمَسْجِدَ

= kaum muslimin memasuki masjid

اَلْمُسْلِمَاتُ يَدْخُلْنَ الْمَسْجِدَ

= kaum muslimat memasuki masjid

b. Sedangkan bila Fi'il mendahului Fa'il, maka bentuk Fi'il tersebut selalu Mufrad, (meskipun Fa'il-nya Mutsanna atau Jamak). Tetapi untuk bentuk Mudzakkar dan Muannats tetap dibedakan dengan adanya huruf Ta Ta'nits ( ت تَأْنِيْث ) atau "Ta Penanda Muannats" pada Fi'il yang Fa'il-nya adalah Muannats.

Contoh Jumlah Fi'liyyah dengan Fi'il Madhy yang terletak sebelum Fa'il:

دَخَلَ اَلْمُسْلِمُ الْمَسْجِدَ

= muslim itu memasuki masjid

دَخَلَتِ الْمُسْلِمَةُ الْمَسْجِدَ

= muslimah itu memasuki masjid

دَخَلَ الْمُسْلِمَانِ الْمَسْجِدَ

= dua muslim itu memasuki masjid

دَخَلَتِ الْمُسْلِمَتَانِ الْمَسْجِدَ

= dua muslimah itu memasuki masjid

دَخَلَ الْمُسْلِمُوْنَ الْمَسْجِدَ

= kaum muslimin memasuki masjid

دَخَلَتِ الْمُسْلِمَاتُ الْمَسْجِدَ

= kaum muslimat memasuki masjid

Contoh Jumlah Fi'liyyah dengan Fi'il Mudhari' yang terletak sebelum Fa'il:

يَدْخُلُ اَلْمُسْلِمُ الْمَسْجِدَ

= muslim itu memasuki masjid

تَدْخُلُ الْمُسْلِمَةُ الْمَسْجِدَ

= muslimah itu memasuki masjid

يَدْخُلُ الْمُسْلِمَانِ الْمَسْجِدَ

= dua muslim itu memasuki masjid

تَدْخُلُ الْمُسْلِمَتَانِ الْمَسْجِدَ

= dua muslimah itu memasuki masjid

يَدْخُلُ الْمُسْلِمُوْنَ الْمَسْجِدَ

= kaum muslimin memasuki masjid

تَدْخُلُ الْمُسْلِمَاتُ الْمَسْجِدَ

= kaum muslimat memasuki masjid

2) Untuk Fa'il lainnya ( أَنْتُنَّ - أَنْتُمْ -أَنْتُمَا - أَنْتَ - أَنْتِ - نَحْنُ - أَنَا )

tetap mengikuti pola perubahan bentuk Fi'il sebagaimana mestinya.

Fi'il Madhy

Fi'il Mudhari'

دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ(أَنَا) أَدْخُلُ الْمَسْجِدَ

saya telah memasuki masjid

saya memasuki masjid

دَخَلْنَا الْمَسْجِدَ(نَحْنُ) نَدْخُلُ الْمَسْجِدَ

kami telah memasuki masjid

kami memasuki masjid

دَخَلْتَ الْمَسْجِدَ(أَنْتَ) تَدْخُلُ الْمَسْجِدَ

engkau telah memasuki masjid

engkau memasuki masjid

دَخَلْتِ الْمَسْجِدَ(أَنْتِ) تَدْخُلِيْنَ الْمَسْجِدَengkau (pr) telah memasuki masjidengkau (pr) memasuki masjidدَخَلْتُمَا الْمَسْجِدَ(أَنْتُمَا) تَدْخُلاَنِ الْمَسْجِدَkamu berdua telah memasuki masjidkamu berdua memasuki masjidدَخَلْتُمُ الْمَسْجِدَ(أَنْتُمْ) تَدْخُلُوْنَ الْمَسْجِدَkalian (lk) telah memasuki masjidkalian (lk) memasuki masjidدَخَلْتُنَّ الْمَسْجِدَ(أَنْتُنَّ) تَدْخُلْنَ الْمَسْجِدَkalian (pr) telah memasuki masjidkalian (pr) memasuki masjid

Carilah sebanyak-banyaknya contoh-contoh Fi'il Madhy dan Fi'il Mudhari' dalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits!

                                   فِعْل اْلأمْر
FI'IL AMAR (Kata Kerja Perintah)

Fi'il Amar atau Kata Kerja Perintah adalah fi'il yang berisi pekerjaan yang dikehendaki oleh Mutakallim (pembicara) sebagai orang yang memerintah agar dilakukan oleh Mukhathab (lawan bicara) sebagai orang yang diperintah.

Perlu diingat bahwa yang menjadi Fa'il (Pelaku) dari Fi'il Amar (Kata Kerja Perintah) adalah DhamirMukhathab (lawan bicara) atau "orang kedua" sebagai orang yangdiperintah untuk melakukan pekerjaan tersebut. Dhamir Mukhathab terdiri dari: أَنْتُنَّ - أَنْتُمْ - أَنْتُمَا - أَنْتِ - أَنْتَ .

Fa'il

Fi'il AmarTarjamahأَنْتَاِفْعَلْ

= (engkau -lk) kerjakanlah!

أَنْتِاِفْعَلِيْ= (engkau -pr) kerjakanlah!أَنْتُمَااِفْعَلاَ= (kamu berdua) kerjakanlah!أَنْتُمْاِفْعَلُوْا= (kalian -lk) kerjakanlah!أَنْتُنَّاِفْعَلْنَ= (kalian -pr) kerjakanlah!

Contoh dalam kalimat: dari fi'il عَمِلَ(= beramal, bekerja) menjadi Fi'il Amar:

اِعْمَلْ لآِخِرَتِكَ= bekerjalah untuk akhiratmu (lk)اِعْمَلِيْ لآِخِرَتِكِ

= bekerjalah untuk akhiratmu (pr)

اِعْمَلاَ لآِخِرَتِكُمَا

= bekerjalah untuk akhirat kamu berdua

اِعْمَلُوْا لآِخِرَتِكُمْ

= bekerjalah untuk akhirat kalian (lk)

اِعْمَلْنَ لآِخِرَتِكُنَّ

= bekerjalah untuk akhirat kalian (pr)

Dari fi'il أَقَامَ (=mendirikan) menjadi Fi'il Amar:

أَقِمْ صَلاَتَكَ

= dirikanlah shalatmu (lk)

أَقِمِيْ صَلاَتَكِ= dirikanlah shalatmu (pr)أَقِمَا صَلاَتَكُمَا= dirikanlah shalat kamu berduaأَقِيْمُوْا صَلاَتَكُمْ= dirikanlah shalat kalian (lk)أَقِمْنَ صَلاَتَكُنَّ= dirikanlah shalat kalian (pr)

Dari fi'il كَبَّرَ (=membesarkan) menjadi Fi'il Amar:

كَبِّرْ رَبَّكَ

= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kamu (lk)كَبِّرِيْ رَبَّكِ= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kamu (pr)كَبِّرَا رَبَّكُمَا= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kamu berduaكَبِّرُوْا رَبَّكُمْ= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kalian (lk)كَبِّرْنَ رَبَّكُنَّ= besarkanlah (agungkanlah) Tuhan kalian (pr)

Sebagai catatan, bila huruf akhir yang sukun dari sebuah Fi'il bertemu dengan awalan Alif-Lam dari sebuah Isim Ma'rifah, maka baris sukun dari huruf akhir fi'il tersebut berubah menjadi baris kasrah. Contoh:

الصَّلاَةَ+أَقِمْ=أَقِمِ الصَّلاَةَ (=shalat) (=dirikanlah) (=dirikanlah shalat) 

Carilah contoh-contoh Fi'il Amar dalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits!

                                       فِعْل النَّهْي
FI'IL NAHY (Kata Kerja Larangan)

Fi'il Nahy atau "kata kerja larangan" adalah bentuk negatif dari Fi'il Amar. Untuk membentuk Fi'il Nahy, kita tinggal menambahkan harf لاَ(=jangan) dan memasukkan huruf  تَdi awal Fi'il Amar. Perhatikan polanya di bawah ini:

Fa'ilFi'il AmarFi'il NahyTarjamahأَنْتَاِفْعَلْ

لاَ تَفْعَلْ

= jangan (engkau -lk) kerjakan

أَنْتِاِفْعَلِيْلاَ تَفْعَلِيْ= jangan (engkau -pr) kerjakanأَنْتُمَااِفْعَلاَلاَ تَفْعَلاَ= jangan (kamu berdua) kerjakanأَنْتُمْاِفْعَلُوْالاَ تَفْعَلُوْا= jangan (kalian -lk) kerjakanأَنْتُنَّاِفْعَلْنَلاَ تَفْعَلْنَ= jangan (kalian -pr) kerjakan

Contoh dalam kalimat:

Dari fi'il خَافَ (= takut) dan fi'ilحَزِنَ (= sedih) menjadi Fi'il Nahy:

لاَ تَخَفْ وَلاَ تَحْزَنْ= jangan (engkau -lk) takut dan jangan sedihلاَ تَخَافِيْ وَلاَ تَحْزَنِيْ= jangan (engkau -pr) takut dan jangan sedihلاَ تَخَافَا وَلاَ تَحْزَنَا= jangan (kamu berdua) takut dan jangan sedihلاَ تَخَافُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا= jangan (kalian -lk) takut dan jangan sedihلاَ تَخَفْنَ وَلاَ تَحْزَنَّ= jangan (kalian -pr) takut dan jangan sedih

Carilah contoh-contoh Fi'il Nahy dalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits!

فِعْل مَعْلُوْم - فِعْل مَجْهُوْل
FI'IL MA'LUM (Kata Kerja Aktif) - FI'IL MAJHUL (Kata Kerja Pasif)

Dalam tata bahasa Indonesia, dikenal istilah Kata Kerja Aktif dan Kata Kerja Pasif. Perhatikan contoh berikut ini:

Abubakar membuka pintu. --> kata "membuka" disebut Kata Kerja Aktif.
Pintu dibuka oleh Abubakar. --> kata "dibuka" disebut Kata Kerja Pasif.

Dalam tata bahasa Arab, dikenal pula istilah Fi'il Ma'lum dan Fi'il Majhul yang fungsinya mirip dengan Kata Kerja Aktif dan Kata Kerja Pasif.

Perhatikan contoh kalimat di bawah ini:

ضَرَبَ عُمَرُضُرِبَ عُمَرُ(= Umar memukul)(= Umar dipukul)

Fi'il  ضَرَبَ (=memukul) adalah Fi'il Ma'lum (Kata Kerja Aktif). Fa'il atau Pelakunya adalah Umar bersifat aktif (melakukan pekerjaan yakni memukul).

Fi'il  ضُرِبَ (=dipukul) adalah Fi'il Majhul (Kata Kerja Pasif). Fa'il atau Pelakunya tidak diketahui (tidak disebutkan). Untuk itu, dalam Fi'il Majhul, dikenal istilah Naib al-Fa'il (نَائِبُ الْفَاعِل ) atau Pengganti Fa'il (Pelaku). Dalam contoh di atas, Umar adalah Naib al-Fa'il (pengganti Pelaku).

Fi'il Majhul dibentuk dari Fi'il Ma'lumdengan perubahan sebagai berikut: 
a) Huruf pertamanya menjadiberbaris Dhammah
b) Huruf sebelum huruf terakhirnya menjadi berbaris Kasrah untuk Fi'il Madhy dan menjadi berbaris Fathahuntuk Fi'il Mudhari'.

Fi'il MadhyFi'il Mudhari'Fi'il Ma'lumFi'il MajhulFi'il Ma'lumFi'il Majhul

فَعَلَ

فُعِلَ

يَفْعَلُ

يُفْعَلُ

Contoh-contoh dalam kalimat:

Fi'il Madhy أَمَرَ (=memerintah) menjadi Fi'il Majhul أُمِرَ(=diperintah):

أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللهَ= aku diperintah agar menyembah Allahأُمِرْنَا أَنْ نَعْبُدَ اللهَ= kami diperintah agar menyembah Allahأُمِرْتَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ= engkau (lk) diperintah agar menyembah Allahأُمِرْتِ أَنْ تَعْبُدِي اللهَ= engkau (pr) diperintah agar menyembah Allahأُمِرْتُمَا أَنْ تَعْبُدَا اللهَ= kamu berduadiperintah agar menyembah Allahأُمِرْتُمْ أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ= kalian (lk) diperintah agar menyembah Allahأُمِرْتُنَّ أَنْ تَعْبُدْنَ اللهَ= kalian (pr) diperintah agar menyembah Allahأُمِرَ أَنْ يَعْبُدَ اللهَ= dia (lk) diperintah agar menyembah Allahأُمِرَتْ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ= dia (pr) diperintah agar menyembah Allahأُمِرَا أَنْ يَعْبُدَا اللهَ= mereka (2 lk) diperintah agar menyembah Allahأُمِرَتَا أَنْ تَعْبُدَا اللهَ= mereka (2 pr) diperintah agar menyembah Allahأُمِرُوْا أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ= mereka (lk) diperintah agar menyembah Allahأُمِرْنَ أَنْ يَعْبُدْنَ اللهَ= mereka (pr) diperintah agar menyembah AllahFi'il Mudhari' يَعْرِفُ (=mengenal) menjadi Fi'il Majhul يُعْرَفُ(=dikenal):أُعْرَفُ بِكَلاَمِيْ= aku dikenal dari bicarakuنُعْرَفُ بِكَلاَمِنَا= kami dikenal dari bicara kamiتُعْرَفُ بِكَلاَمِكَ= engkau (lk) dikenal dari bicaramuتُعْرَفِيْنَ بِكَلاَمِكِ= engkau (pr) dikenal dari bicaramuتُعْرَفَانِ بِكَلاَمِكُمَا= kamu berdua dikenal dari bicara kamu berduaتُعْرَفُوْنَ بِكَلاَمِكُمْ= kalian (lk) dikenal dari bicara kalianتُعْرَفْنَ بِكَلاَمِكُنَّ= kalian (pr) dikenal dari bicara kalianيُعْرَفُ بِكَلاَمِهِ= dia (lk) dikenal dari bicaranyaتُعْرَفُ بِكَلاَمِهَا= dia (pr) dikenal dari bicaranyaيُعْرَفَانِ بِكَلاَمِهِمَا= mereka (2 lk) dikenal dari bicara merekaيُعْرَفُوْنَ بِكَلاَمِهِمْ= mereka (lk) dikenal dari bicara merekaيُعْرَفْنَ بِكَلاَمِهِنَّ= mereka (pr) dikenal dari bicara mereka

Carilah contoh-contoh Fi'il Majhuldalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits!

حَرْف
HARF (Kata Tugas)

Harf adalah semua jenis kata selain Isim dan Fi'il, yang tidak bisa berdiri sendiri dan tidak memiliki arti yang jelas tanpa kata-kata lain dalam hubungan kalimat.

Contoh Harf: وَ (=dan), مِنْ (=dari),عَنْ (=dari), إِلَى (=ke, kepada), فِيْ(=di, dalam), حَتَّى (=hingga), لاَ(=tidak, tidak ada), إِنْ (=jika), dan lain-lain.

Sekilas catatan penting tentangpenggunaan beberapa macam Harf:

1. Beberapa Harf, seperti بِـ (=dengan) di dalam kalimat kadang mempunyai arti, dan kadang hanya sebagai tambahan yang tidak mempunyai arti. Contoh:

أَعُوْذُ بِاللهِ

= aku berlindung kepada Allah

كَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا

= cukuplah Allah (sebagai) saksi

2. Harf  وَ  mempunyai dua fungsi:  
a) ATHAF (عَطْف) atau Kata Sambung (=dan). Contoh:

ذَهَبَ أَحْمَدُ وَعَلِيٌّ

= Ahmad dan Ali telah pergi

b) QASM (قَسْم}atau Kata Sumpah (=demi). Contoh:

وَالْعَصْرِ

= demi waktu (Ashar)

Perlu dicamkan, bahwa di dalam al-Quran, Allah subhanahu wata'alasering bersumpah dengan nama makhluq-Nya agar manusia mengambil pelajaran dari apa yang dijadikan sumpah tersebut. Adapun manusia, hanya boleh bersumpah dengan nama dan sifat Allah, tidak boleh bersumpah dengan nama makhluq.

3. Harf  Lam لـ  juga mempunyai beberapa fungsi:

a) MILIK (مِلْك) atau kepunyaan.Contoh:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ

kepunyaan Allah (seluruh) kerajaan langit dan bumi

b) TA'LIL (تَعْلِيْل) atau peruntukan (=untuk). Contoh:

أَذْهَبُ إِلَى الْمَدْرَسَةِلِلتَّعْلِيْمِ

= saya pergi ke sekolah untuk belajar

c) AMAR (أَمْر) atau perintah (=agar, supaya, hendaklah). Contoh:

لِيُنْفِقْذُوْ سَعَةٍ

hendaklah berinfak orang yang punya kelapangan (rezki)

d) TAUKID (تَوْكِيْد) atau penegasan (=sungguh, pasti). Contoh:

لَأَقُوْلُقَوْلَ الْحَقِّ

sungguh aku akan berkata perkataan yang benar

4. Harf  إِنْ  mempunyai dua macam arti:

a) Berarti "jika". Contoh:

إِنْ تَنْصُرُوا اللهَ يَنْصُرْكُمْ

= jika kalian menolong (agama) Allah, Dia akan menolong kalian.

b) Berarti "tidak", bila sesudahnya terdapat kata إِلاَّ  (=kecuali). Contoh:

إِنْ أَنْتُمْ إِلاَّ تَكْذِبُوْنَ

= tidak lain kalian hanyalah berdusta

5. Harf  لاَ  juga ada dua macam:
a. NAFY (نَفْي) atau penidakan (=tidak, bukan, tidak ada). Contoh:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

= tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allahb. NAHY (نَهْي) atau pelarangan (=jangan). Contoh:

لاَ تَعْبُدُوْا إِلاَّ اللهَ

= jangan kalian menyembah kecuali (kepada) Allah

Demikianlah sekelumit contoh penggunaan Harf dan macam-macam artinya. Carilah contoh-contoh penggunaan Harf dalam ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits, pelajarilah aneka ragam fungsi dan artinya masing-masing!

أَدَوَاتُ الاِسْتِفْهَام
ADAWAT AL-ISTIFHAM (Kata Tanya)

Di bawah ini dicantumkan sejumlah Kata Tanya dengan contohnya masing-masing dalam kalimat beserta contoh jawabannya:

Kata Tanya

ContohKalimat Tanya

Contoh Jawabanهَلْ / أَهَلْ أََنْتَ مَرِيْضٌ ؟لاَ، أَنَا فِيْ صِحَّةٍ

(=apakah)

(=apakah engkau sakit?)

(=tidak, saya sehat)

مَاذَا / مَا

مَاذَا تَكْتُبُ ؟

أَكْتُبُ رِسَالَةً

(=apa)

(=apa yang kau tulis?)

(=aku menulis surat)

مَنْ ذَا / مَنْ

مَنْ كَتَبَ هَذَا ؟

أَحْمَدُ كَتَبَ هَذَا

(=siapa)

(=siapa yang menulis ini?)

(=Ahmad yang menulis ini)

أَيَّةُ / أَيُّ

أَيُّ قَلَمٍ تُحِبُّ ؟أُحِبُّ قَلَمَ اْلأَسْوَدِ

(=yang mana)

(=pena yang mana kau suka?)(=aku suka pena yang hitam)

مَتَى

مَتَى تَذْهَبُ ؟

أَذْهَبُ غَدًا

(=kapan)

(=kapan engkau pergi?)

(=aku pergi besok)

أَيْنَ

أَيْنَ تَذْهَبُ ؟

أَذْهَبُ إِلَى الْقَرْيَةِ

(=dimana)

(=dimana engkau pergi?)

(=aku pergi ke kampung)

كَيْفَ

كَيْفَ تَذْهَبُ ؟

أَذْهَبُ بِالْحَافِلَةِ

(=bagaimana)

(=bagaimana engkau pergi?)

(=aku pergi dengan bus)

كَمْ

كَمْ يَوْمًا تَذْهَبُ ؟أَذْهَبُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ

(=berapa)

(=berapa hari engkau pergi?)

(=aku pergi selama tiga hari)

لِمَاذَا / لِمَا

لِمَاذَا تَأَخَّرْتَ ؟

الطَّرِيْقُ مُزْدَحِمَةٌ

(=mengapa)

(=mengapa kau terlambat?)

(=jalanan macet)

لِمَ

لِمَ سَأَلْتَ ذَلِكَ ؟

حَقِيْقَةً لاَ أَفْهَمُ

(=kenapa)

(=kenapa kau bertanya itu?)

(=sungguh aku tidak paham)

لِمَنْ

لِمَنْ هَذَا الْقَلَمُ ؟

هَذَا قَلَمُ أَحْمَدِ

(=punya siapa)

(=kepunyaan siapa pena ini?)

(=ini pena Ahmad)

Buatlah sendiri kalimat-kalimat tanya dari setiap kata-kata tanya di atas!

اِسْم جَامِد
ISIM JAMID

Menurut asal kata dan pembentukannya, Isim atau Kata Benda terbagi dua:

1. ISIM JAMID ( اِسْم جَامِد ) yaitu Isim yang tidak terbentuk dari kata lain.
2. ISIM MUSYTAQ ( اِسْم مُشْتَق ) yaitu Isim yang dibentuk dari kata lain.

Isim Jamid terbagi dua:

a) ISIM DZAT ( اِسْم ذَات ) atau ISIM JINS ( اِسْم جِنْس )
Contoh: رَجُلٌ (=orang), أَسَدٌ(=singa), نَهْرٌ (=sungai)
b) ISIM MA'NA ( اِسْم مَعْنَى ) atau MASHDAR ( مَصْدَر )
Contoh: عِلْمٌ (=ilmu), عَدْلٌ(=keadilan), شَجَاعَةٌ (=keberanian)

Mashdar adalah Isim yang menunjukkan peristiwa atau kejadian yang tidak disertai dengan penunjukan waktu. Berbeda dengan Fi'il yang terikat dengan waktu, apakah di waktu lampau, sekarang atau akan datang. Contoh:

أُرِيْدُ أَنْ أُصَلِّيْ (= aku ingin shalat) --> أُصَلِّي (= aku shalat) : Fi'il
أُرِيْدُ صَلاَةً (= aku ingin shalat) -->صَلاَة (= shalat) : Mashdar (Isim)

Setiap Fi'il memiliki Mashdar. Dengan kata lain, Mashdar adalah bentuk Isim dari sebuah Fi'il. WAZAN (وَزْن) atau Timbangan (pola pembentukan) Mashdar sangat beragam. Perhatikan contoh pembentukan Mashdar di bawah ini:

Wazan

Perubahan dari Fi'il ke Mashdar

Tarjamah

فَعْلٌ

نَصَرَ -يَنْصُرُ -نَصْرٌ

= menolongفِعْلٌ

ذَكَرَ -يَذْكُرُ -ذِكْرٌ

= mengingat, menyebutفُعَالٌ

بَكَى -يَبْكِيَ -بُكَاءٌ

= menangisفِعَالٌ

قَامَ -يَقُوْمُ -قِيَامٌ

= berdiriفُعُوْلٌ

سَجَدَ -يَسْجُدُ -سُجُوْدٌ

= bersujudإِفْعَالٌ

أَطْعَمَ -يُطْعِمُ -إِطْعَامٌ

= memberi makanفِعَالَةٌ

زَرَعَ -يَزْرَعُ -زِرَاعَةٌ

= bertaniتَعْفِيْلٌ

عَلَّمَ -يُعَلِّمُ -تَعْلِيْمٌ

= mengajar, memberitahuتَفْعِلَةٌ

ذَكَّرَ -يُذَكِّرُ -تَذْكِرَةٌ

=mengingatkan

Pahamilah baik-baik nama-nama dan bentuk-bentuk Isim yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

إِعْرَاب اْلاِسْم
I'RAB ISIM

I'rab ialah perubahan baris/bentuk yang terjadi di belakang sebuah kata sesuai dengan kedudukan kata tersebut dalam susunan kalimat. Pada dasarnya, Isim bisa mengalami tiga macam I'rab yaitu:

1. I'RAB RAFA' ( رَفْع ) atau Subjek; dengan tanda pokok: Dhammah ( ُ  )
2. I'RAB NASHAB ( نَصْب ) atau Objek; dengan tanda pokok: Fathah ( َ   )
3. I'RAB JARR ( جَرّ ) atau Keterangan; dengan tanda pokok: Kasrah ( ِ   )

Perhatikan contoh dalam kalimat di bawah ini:

جَاءَ الطُّلاَّبُ= datang siswa-siswa

رَأَيْتُ الطُّلاَّبَ

= aku melihat siswa-siswa

سَلَّمْتُ عَلَى الطُّلاَّبِ

= aku memberi salam kepada siswa-siswa

Isim الطُّلاَّب (=siswa-siswa) pada contoh di atas mengalami tiga macam I'rab:

1) I'rab Rafa' (Subjek) dengan tanda Dhammah di huruf akhirnya (الطُّلاَّبُ )
2) I'rab Nashab (Objek) dengan tanda Fathah di huruf akhirnya ( الطُّلاَّبَ)
3) I'rab Jarr (Keterangan) dengan tanda Kasrah di huruf akhirnya (الطُّلاَّبِ )

Alamat I'rab seperti ini dinamakan Alamat Ashliyyah (عَلاَمَاتاْلأَصْلِيَّة) atau tanda-tanda asli (pokok).

Perlu diketahui bahwa tidak semua Isim bisa mengalami I'rab atau perubahan baris/bentuk di akhir kata.Dalam hal ini, Isim terbagi dua:

1) ISIM MU'RAB ( اِسْم مُعْرَب ) yaitu Isim yang bisa mengalami I'rab. Kebanyakan Isim adalah Isim Mu'rab artinya bisa berubah bentuk/baris akhirnya, tergantung kedudukannya dalam kalimat.

2) ISIM MABNI ( اِسْم مَبْنِي ) yaitu Isim yang tidak terkena kaidah-kaidah I'rab. Yang termasuk Isim Mabni adalah: Isim Dhamir (Kata Ganti), Isim Isyarat (Kata Tunjuk), Isim Maushul (Kata Sambung), Isim Istifham (Kata Tanya).

Perhatikan contoh Isim Mabni dalam kalimat-kalimat di bawah ini:

جَاءَ هَؤُلاَءِ

= datang (mereka) ini

رَأَيْتُ هَؤُلاَءِ= aku melihat (mereka) iniسَلَّمْتُ عَلَى هَؤُلاَءِ= aku memberi salam kepada (mereka) ini

Dalam contoh-contoh di atas terlihat bahwa Isim Isyarah هَؤُلاَءِ (=ini) tidak mengalami I'rab atau perubahan baris/bentuk di akhir kata, meskipun kedudukannya dalam kalimatberubah-ubah, baik sebagai Subjek, Objek maupun Keterangan. Isim Isyarah termasuk diantara kelompok Isim Mabni.

Bila anda telah memahami baik-baik tentang pengertian I'rab dan tanda-tanda aslinya, marilah kita melanjutkan pelajaran tentang Isim Mu'rab.

اِسْم مَرْفُوْع
ISIM MARFU'

Isim yang mengalami I'rab Rafa' dinamakan Isim Marfu' yang terdiri dari:

1) Mubtada' (Subjek) dan Khabar (Predikat) pada Jumlah Ismiyyah (Kalimat Nominal). Perhatikan contoh-contoh Jumlah Ismiyyah di bawah ini:

اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ

= rumah itu besar

اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ جَمِيْلٌ

= rumah itu besar (lagi) indah

اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ جَمِيْلٌ

= rumah besar itu indah

اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ جَمِيْلٌ غَالٌ

= rumah besar itu indah (lagi) mahal

Dalam contoh di atas terlihat bahwa semua Isim yang terdapat dalam Jumlah Ismiyyah adalah Marfu' (mengalami I'rab Rafa'), tandanya adalah Dhammah.

2) Fa'il (Subjek Pelaku) atau Naib al-Fa'il (Pengganti Subjek Pelaku) pada Jumlah Fi'liyyah (Kalimat Verbal). Contoh:

جَاءَ مُحَمَّدٌ

= Muhammad datang

يَغْلِبُ عُمَرُ= Umar menangيُغْلَبُ الْكَافِرُ

= orang kafir itu dikalahkan

لُعِنَ الشَّيْطَانُ= syaitan itu dilaknat

مُحَمَّدٌ (=Muhammad) --> Fa'il  --> Marfu' dengan tanda Dhammah
عُمَرُ (=Umar) --> Fa'il  --> Marfu' dengan tanda Dhammah
الْكَافِرُ (=orang kafir) --> Naib al-Fa'il --> Marfu' dengan tanda Dhammah.
الشَّيْطَانُ (=syaitan) --> Naib al-Fa'il --> Marfu' dengan tanda Dhammah.

Pahamilah baik-baik semua kaidah-kaidah yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

اِسْم مَنْصُوْب
ISIM MANSHUB

Isim yang terkena I'rab Nashab disebut Isim Manshub. Yang menjadi Isim Manshub adalah semua Isim selain Fa'il atau Naib al-Fa'il dalam Jumlah Fi'liyyah.

1) MAF'UL (مَفْعُوْل) yakni Isim yang dikenai pekerjaan (Objek Penderita).

قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَ

= Muhammad membaca al-Quran

القُرْآنَ (= al-Quran) --> Maf'ul --> Manshub dengan tanda fathah.

2) MASHDAR ( مَصْدَر ) yakni Isim yang memiliki makna Fi'il dan berfungsi untuk menjelaskan atau menegaskan (menguatkan) arti dari Fi'il.

قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَ تَرْتِيْلاً

= Muhammad membaca al-Quran dengan tartil (perlahan-lahan)

تَرْتِيْلاً (= perlahan-lahan) --> Mashdar --> Manshub dengan tanda fathah.

3) HAL ( حَال ) ialah Isim yang berfungsi untuk menjelaskan keadaan Fa'il atau Maf'ul ketika berlangsungnya pekerjaan.

قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَخَاشِعًا

= Muhammad membaca al-Quran dengan khusyu'

خَاشِعًا (= orang yang khusyu') --> Hal --> Manshub dengan tanda fathah.

4) TAMYIZ ( تَمْيِيْز ) ialah Isim yang berfungsi menerangkan maksud dari Fi'il dalam hubungannya dengan keadaan Fa'il atau Maf'ul.

قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَعِبَادَةً

= Muhammad membaca al-Quran sebagai suatu ibadah

عِبَادَةً (= ibadah) --> Tamyiz --> Manshub dengan tanda fathah.

5) ZHARAF ZAMAN (ظَرْف زَمَان) atau Keterangan Waktu dan ZHARAF MAKAN (ظَرْف مَكَان) atau Keterangan Tempat.

قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَ لَيْلاً

= Muhammad membaca al-Quran pada suatu malam

لَيْلاً (= malam) --> Zharaf Zaman --> Manshub dengan tanda fathah.

Diantara Zharaf Zaman: يَوْمَ (=pada hari), اَلْيَوْمَ (=pada hari ini), لَيْلاً(=pada malam hari), نَهَارًا (=pada siang hari), صَبَاحًا (=pada pagi hari), مَسَاءً (=pada sore hari), غَدًا(=besok), اْلآنَ (=sekarang), dan sebagainya. 
Diantara Zharaf Makan: أَمَامَ (=di depan), خَلْفَ (=di belakang),  وَرَاءَ(=di balik), فَوْقَ (=di atas), تَحْتَ(=di bawah), عِنْدَ (=di sisi), حَوْلَ(=di sekitar), بَيْنَ (=di antara),جَانِبَ (=di sebelah), dan sebagainya.

6) Mudhaf yang berfungsi sebagai MUNADA (مُنَادَى) atau Seruan/Panggilan.
رَسُوْلُ اللهِ (=Rasul Allah) adalah Mudhaf-Mudhaf Ilaih, bila berfungsi sebagai Munada, maka kata رَسُوْل(=Rasul) sebagai Mudhaf menjadi Manshub.

يَا رَسُوْلَ اللهِ

= Wahai Rasul Allah

Sedangkan bila Munada itu adalahIsim Mufrad yang bukan merupakanMudhaf-Mudhaf Ilaih, maka Isim tersebut tetap dalam bentuk Marfu'. Contoh:

يَا مُحَمَّدُ

= Wahai Muhammad

7) MUSTATSNA ( مُسْتَثْنَى ) atau Perkecualian ialah Isim yang terletak sesudah ISTITSNA (اِسْتِثْنَى ) atau Pengecuali. Contoh:

حَضَرَ الطُّلاَّبُ إِلاَّ زَيْدًا

= para siswa telah hadir kecuali Zaid

إِلاَّ (=kecuali) --> Istitsna  (Pengecuali).
زَيْدًا (=Zaid) --> Mustatsna (Perkecualian) --> Manshub dengan tanda Fathah

Kata-kata yang biasa menjadi Istitsna antara lain: 
إِلاَّ - غَيْرَ - سِوَى - خَلاَ - عَدَا - حِشَا
Semuanya biasa diterjemahkan: kecuali, selain.

Isim yang berkedudukan sebagai Mustatsna tidak selalu harus Manshub. Mustatsna bisa menjadi Marfu' dalam keadaan sebagai berikut:

a) Bila berada dalam Kalimat Negatif dan Subjek yang dikecualikan darinya disebutkan. Maka Mustatsna boleh Manshub dan boleh Marfu'. Contoh:

مَا قَامَ الطُّلاَّبُ إِلاَّزَيْدًا

= para siswa tidak berdiri kecuali Zaid

مَا قَامَ الطُّلاَّبُ إِلاَّزَيْدٌ

= para siswa tidak berdiri kecuali Zaid

Kalimat di atas adalah Kalimat Negatif (ada kata: tidak) dan disebutkan Subjek yang dikecualikan darinya yaitu الطُّلاَّبُ (=para siswa) maka Mustatsna boleh Manshub dan boleh pula Marfu' (زَيْدًا atau زَيْدٌ).

b) Bila Mustatsna berada dalam kalimat Negatif dan Subjek yang dikecualikan darinya tidak disebutkan sedangkan Mustatsna itu berkedudukan sebagai Fa'il maka ia harus mengikuti kaidah I'rab yakni menjadi Marfu'. Contoh:

مَا قَامَ إِلاَّ زَيْدٌ

= tidak berdiri kecuali Zaid

Mustatsna menjadi Marfu' karena berkedudukan sebagai Fa'il (زَيْدٌ) dan berada dalam Kalimat Negatif yang tidak disebutkan Subjek yang dikecualikan darinya.

اِسْم مَجْرُوْر
ISIM MAJRUR

Isim yang terkena I'rab Jarr disebut Isim Majrur yang terdiri dari:

1) Isim yang diawali dengan Harf Jarr. Yang termasuk Harf Jarr adalah: بِ(=dengan), لِ (=untuk), فِيْ (=di, dalam), عَلَى (=atas), إِلَى (=ke), مِنْ(=dari), كَـ (=bagai), حَتَّى (=hingga),وَ / تَـ  untuk sumpah (=demi ...).

Perhatikan contoh-contoh berikut:

أَعُوْذُ بِاللهِ

= aku berlindung kepada Allahأُصَلِّيْ فِي الْمَسْجِدِ

= aku shalat di masjid

وَالْعَصْرِ

= demi masa!

الله / الْمَسْجِدالْعَصْر pada kalimat-kalimat di atas adalah Isim Majrur karena didahului/dimasuki oleh Harf Jarr. Tanda Majrurnya adalah Kasrah.

2) Isim yang berkedudukan sebagai Mudhaf Ilaih. Contoh:

رَسُوْلُ اللهِ (=Rasul Allah) -->رَسُوْلُ [Mudhaf], اللهِ [Mudhaf Ilaih]
أَهْلُ الْكِتَابِ (=ahlul kitab) -->أَهْلُ [Mudhaf], الْكِتَابِ [Mudhaf Ilaih]

Mudhaf Ilaih selalu sebagai Isim Majrur, sedangkan Mudhaf (Isim di depannya) bisa dalam bentuk Marfu', Manshub maupun Majrur, tergantung kedudukannya dalam kalimat. Perhatikan contoh-contoh kalimat di bawah ini:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ

= berkata Rasul Allah

أُحِبُّ رَسُوْلَ اللهِ

= saya mencintai Rasul Allah

نُؤْمِنُ بِرَسُوْلِ اللهِ= kami beriman kepada Rasul Allah

Dalam contoh-contoh di atas, Isimرَسُوْل  merupakan Mudhaf dan bentuknya bisa Marfu' (contoh pertama), Manshub (contoh kedua) maupun Majrur (contoh ketiga). Adapun kata الله sebagai Mudhaf Ilaih selalu dalam bentuk Majrur.

3) Termasuk dalam Mudhaf Ilaih adalah Isim yang mengikuti Zharaf.

يَجْلِسُوْنَ أَمَامَ الْبَيْتِ

= mereka duduk-duduk di depan rumah

أَقُوْمُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

= aku berdiri di bawah pohon

Dalam contoh di atas, Isim الْبَيْتِ(=rumah) dan Isim الشَّجَرَةِ(=pohon) adalah Isim Majrur dengan tanda Kasrah karena terletak sesudah Zharaf أَمَامَ (=di depan) dan تَحْتَ(=di bawah). Dalam hal ini, kedua Zharaf tersebut merupakan Mudhaf sedang Isim yang mengikutinya merupakan Mudhaf Ilaih.

Hafalkanlah istilah-istilah tata bahasa Arab yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

إِنَّ وَ كَانَ وَ أَخَوَاتُهُمَا
"INNA" DAN "KANA" SERTA "KAWAN-KAWANNYA"

Kata  إِنَّ (=sesungguhnya) dan  كَانَ(=adalah) serta kawan-kawannya sedikit mengubah kaidah I'rab yang telah kita pelajari sebelumnya sebagai berikut:

1) Bila Harf  إِنَّ (=sesungguhnya) atau kawan-kawannya memasuki sebuah Jumlah Ismiyyah ataupun Jumlah Fi'liyyah maka Mubtada' atau Fa'il yang asalnya Isim Marfu' akan menjadi Isim Manshub. Perhatikan contoh di bawah ini:

Jumlah tanpa Inna

Jumlah dengan Inna

اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ

إِنَّ الْبَيْتَ كَبِيْرٌ

(=rumah itu besar)

(=sesungguhnya rumah itu besar)

اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ غَالٌ

لَكِنَّ اَلْبَيْتَالْكَبِيْرَ غَالٌ

(=rumah besaritu mahal)

(=akan tetapi rumah besar itu mahal)

نَصَرَ اللهُ الْمُؤْمِنَ

لَعَلَّ اللهَ يَنْصُرُ الْمُؤْمِنَ

(=Allah menolong mukmin)

(=semoga Allah menolong mukmin)

Yang termasuk kawan-kawan إِنَّantara lain: 
أَنَّ (=bahwasanya), كَأَنَّ (=seolah-olah), لَكِنَّ (=akan tetapi), لَعَلَّ(=agar supaya), لَيْتَ (=andaisaja), لاَ(=tidak, tidak ada).

2) Bila Fi'il  كَانَ (=adalah) atau kawan-kawannya memasuki sebuah Jumlah Ismiyyah maka Khabar yang asalnya Isim Marfu' akan menjadi Isim Manshub.

Jumlah tanpa Kana

Jumlah dengan Kana

اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌكَانَ الْبَيْتُ كَبِيْرًا

(=rumah itu besar)

(=adalah rumah itu besar)

اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ جَمِيْلٌظَلَّ الْبَيْتُ كَبِيْرًا جَمِيْلاً

(=rumah itubesar lagi cantik)

(=jadilah rumah itubesar lagi cantik)

مُحَمَّدٌ سَعِيْدٌ

مَا زَالَ مُحَمَّدٌ سَعِيْدًا

(=Muhammad bahagia)

(=Muhammad senantiasa bahagia)

Adapun yang termasuk kawan-kawanكَانَ (=adalah) antara lain: 
أَصْبَحَ / أَضْحَى / ظَلَّ /أَمْسَى / بَاتَ / صَارَ(=menjadi),
مَا زَالَ (=senantiasa), مَا دَامَ(=selama), مَا (=tidak), لَيْسَ(=tidak).

Pahamilah baik-baik semua kaidah-kaidah yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

عَلاَمَات الْفَرْعِيَّة
ALAMAT FAR'IYYAH (TANDA-TANDA CABANG)

Dalam pelajaran-pelajaran yang lalu kita sudah melihat Alamat Ashliyyah atau tanda-tanda asli (pokok) dari I'rab yaitu baris Dhammah untuk I'rab Rafa', baris Fathah untuk I'rab Nashab, dan baris Kasrah untuk I'rab Jarr.

Diantara bentuk-bentuk Isim, ada yang menggunakan tanda-tanda yang berbeda dari Alamat Ashliyyah untuk menunjukkan I'rab Rafa', Nashab atau Jarr tersebut, karena bentuknya yang khas, mereka menggunakan Alamat Far'iyyah yaitu:

1) Isim Mutsanna (Kata Benda Dual). 
a. I'rab Rafa' ditandai dengan huruf Alif-Nun ( ان )
b. I'rab Nashab dan I'rab Jarr ditandai dengan huruf Ya-Nun ( ين )

جَاءَ رَجُلاَنِ

= datang dua orang lelakiرَأَيْتُ رَجُلَيْنِ= aku melihat dua orang lelakiسَلَّمْتُ عَلَى رَجُلَيْنِ= aku memberi salam kepada dua orang lelaki

2) Isim Jamak Mudzakkar Salim (Kata Benda Jamak Laki-laki Beraturan).
a. I'rab Rafa' ditandai dengan huruf Wau-Nun ( ون )
b. I'rab Nashab dan I'rab Jarr ditandai dengan huruf Ya-Nun ( ين )

جَاءَ الْمُسْلِمُوْنَ= datang kaum musliminرَأَيْتُ الْمُسْلِمِيْنَ= aku melihat kaum musliminسَلَّمْتُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ

= aku memberi salam kepada kaum muslimin

3) Al-Asma' al-Khamsah ( اَلأَسْمَاءالْخَمْسَة ) atau "isim-isim yang lima" yakni: أَبٌ (=ayah), أَخٌ(=saudara), حَمٌ (=ipar), ذُوْ(=pemilik) dan فَمٌ (=mulut). Isim-isim ini memiliki perubahan bentuk yang khas sebagai berikut:
a. I'rab Rafa' ditandai dengan huruf Wau ( و ) di akhirnya
b. I'rab Nashab ditandai dengan huruf Alif ( ا  ) di akhirnya
c. I'rab Jarr ditandai dengan huruf Ya (ي ) di akhirnya

جَاءَ أَبُوْ بَكْرٍ

= datang Abubakar

رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ= aku melihatAbubakarسَلَّمْتُ عَلَى أَبِيْ بَكْرٍ

= aku memberi salam kepada Abubakar

Hafalkanlah kelompok-kelompok Isim yang mempunyai tanda-tanda I'rab yang khas ini.
اِسْم غَيْرُ مُنَوَّن
ISIM GHAIRU MUNAWWAN (Isim yang Tidak Menerima Tanwin)

Dalam kaitannya tentang Alamat I'rab Far'iyyah (tanda-tanda I'rab cabang), kita harus mempelajari golongan Isim yang huruf akhirnya tidak menerima baris tanwin maupun kasrah (hanya menerima baris dhammah dan fathah). 

Isim-isim ini dinamakan ISIM GHAIRU MUNAWWAN yang terdiri dari:

1) Semua Isim 'Alam (Nama) yang diakhiri dengan Ta Marbuthah (meskipun ia adalah Mudzakkar). Misalnya: فَاطِمَةُ (=Fatimah),آمِنَةُ (=Aminah), مَكَّةُ (=Makkah),مُعَاوِيَةُ (=Muawiyah), حَمْزَةُ(=Hamzah), dan sebagainya.

2) Semua Isim 'Alam Muannats (meskipun tidak diakhiri dengan Ta Marbuthah). Misalnya: خَدِيْجَةُ(=Khadijah), سَوْدَةُ (=Saudah),زَيْنَبُ (=Zainab), بَغْدَادُ (=Bagdad),دِمَشْقُ (=Damaskus), dan sebagainya.

3) Isim 'Alam yang merupakan kata serapan atau berasal dari bahasa 'ajam (bukan Arab). Misalnya:إِبْرَاهِيْمُ (=Ibrahim), دَاوُدُ(=Dawud), يُوْسُفُ (=Yusuf),فِرْعَوْنُ (=Fir'aun), قَارُوْنُ(=Qarun), dan sebagainya.

4) Isim 'Alam yang menggunakan wazan (pola/bentuk) Fi'il. Misalnya:يَزِيْدُ (=Yazid), أَحْمَدُ (=Ahmad),يَثْرِبُ (=Yatsrib), dan sebagainya.

5) Isim 'Alam yang menggunakan wazan  فُعَل . Misalnya: عُمَرُ(=Umar), زُحَلُ (=Zuhal), جُحَا(=Juha), dan sebagainya.

6) Semua Isim, baik Isim 'Alam maupun bukan, yang diakhiri dengan huruf Alif-Nun. Misalnya: عُثْمَانُ(=Utsman), سُلَيْمَانُ (=Sulaiman),رَمَضَانُ (=Ramadhan), جَوْعَانُ(=lapar), غَضْبَانُ (=marah), dan sebagainya.

7) Semua Isim yang menggunakan wazan (pola/bentuk) أَفْعَل . Misalnya: أَفْضَلُ (=lebih utama),أَكْبَرُ (=lebih besar), أَسْوَدُ(=hitam), dan sebagainya.

8) Isim Jamak yang mempunyai wazan yang di tengahnya terdapat Mad Alif. Misalnya: رَسَائِلُ (=surat-surat), أَنَاشِيْدُ (=nasyid-nasyid),شَوَارِعُ (=jalan-jalan), قَبَائِلُ(=suku-suku), dan sebagainya. 

9) Isim 'ADAD (عَدَد) atau Bilangan dari satu sampai sepuluh yang menggunakan wazan فَعَال atauمَفْعَل  . Misalnya: ثُلاَثُ (=tiga),رُبَاعُ (=empat), خُمَاسُ (=lima),مَعْشَرُ (=kelompok), dan sebagainya.

10) Isim أُخَرُ (=yang lain) yang merupakan bentuk Jamak dariأُخْرَى .

11) Isim yang huruf akhirnya berupa Alif Mamdudah ( أَلِف مَمْدُوْدَة ) atau Alif Lurus (  اء ). Misalnya:زَهْرَاءُ (=yang berkilau), عُلَمَاءُ(=orang-orang berilmu), أَصْدِقَاءُ(=teman-teman), dan sebagainya.

Seperti dinyatakan di awal tadi, Isim-isim di atas huruf akhirnya tidak menerima baris tanwin dan kasrah. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan I'rab, Isim Ghairu Munawwan mempunyai alamat atau tanda-tanda I'rab sebagai berikut:

a. I'rab Rafa' dan I'rab Nashab tetap menggunakan Alamat Ashliyyah yakni baris Dhammah untuk I'rab Rafa' dan baris Fathah untuk I'rab Nashab.

b. I'rab Jarr tidak menggunakan baris Kasrah melainkan baris Fathah.

جَاءَ سُلَيْمَانُ

= datang Sulaiman

رَأَيْتُ سُلَيْمَانَ

= aku melihatSulaiman

سَلَّمْتُ عَلَى سُلَيْمَانَ

= aku memberi salam kepada Sulaiman

Sebagai perkecualian, bila Isim-isim tersebut menggunakan awalan Alif-Lam Ma'rifah, maka ia menerima baris kasrah bila terkena I'rab Jarr. Perhatikan:

سَلَّمْتُ عَلَى قَبَائِلَ

= aku memberi salam kepada suku-suku

سَلَّمْتُ عَلَى الْقَبَائِلِ

= aku memberi salam kepada suku-suku itu

سَلَّمْتُ عَلَى عُلَمَاءَ

= aku memberi salam kepada para ulama

سَلَّمْتُ عَلَى الْعُلَمَاءِ

= aku memberi salam kepada para ulama itu

Namun masih ada lagi kelompok Isim Ghairu Munawwan yang huruf akhirnya selalu tetap, tidak mengalami perubahan baris apapun. Yaitu:
12) Isim-isim yang huruf akhirnya Alif Maqshurah ( أَلِف مَقْصُوْرَة ) atau Alif Bengkok ( ى tanpa titik dua). Misalnya: مُوْسَى (=Musa),عِيْسَى (=Isa), هُدَى (=petunjuk),طُوَى (=Thuwa: nama bukit), dan sebagainya.

Isim-isim ini huruf akhirnya tidak pernah berubah, dalam keadaan I'rab apapun.

جَاءَ مُوْسَى

= datang Musaرَأَيْتُ مُوْسَى= aku melihat Musaسَلَّمْتُ عَلَىمُوْسَى

= aku memberi salam kepada Musa

Hafalkanlah istilah-istilah tata bahasa Arab yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

KITAB AL- BARZANJI

 KITAB AL-BARZANJI

*يَا رَبِّ صَلِّ عَلَي مُحَمَّدْ * يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ*

*يَا رَبِّ بَلِّغْهُ الْوَسِيْلَةْ * يَا رَبِّ خُصَّهُ بِالْفَضِيْلَةْ*

*يَا رَبِّ وَارْضَ عَنِ الصَّحَابَةْ * يَا رَبِّ وَارْضَ عَنِ السُّلَالَةْ*

*يَا رَبِّ وَارْضَ عَنِ الْمَشَاِيخْ * يَا رَبِّ وَارْحَمْ وَالِدِيْنَا*

*يَا رَبِّ وَارْحَمْنَا جَمِيْعًا * يَا رَبِ ّوَاْرْحَمْ كُلَّ مُسْلِمْ*

*يَا رَبِّ وَاغْفِرْ لِكُلِّ مُذْنِبْ* يَارَبِّ لَا تَقْطَعْ رَجَانَا*

*يَا رَبِّ يَاسَامِعْ دُعَانَا * يَارَبِّ بَلِّغْنَا نَزُوْرُهْ*

*يَا رَبِّ تَغْشَانَا بِنُوْرِهْ * يَا رَبِّ حِفْظَانَكْ وَأَمَانَكْ*

*يَا رَبِّ وَاسْكِنَّا جِنَانَكْ * يَا رَبِّ أَجِرْنَا مِنْ عَذَابِكْ*

*يَا رَبِّ وَارْزُقْنَا الشَّهَادَةْ * يَا رَبِّ حُطْنَا بِالسَّعَادَةْ*

*يَا رَبِّ وَاصْلِحْ كُلَّ مُصْلِحْ * يَا رَبِّ وَاكْفِ كُلَّ مُؤْذِيْ*

*يَا رَبِّ نَخْتِمْ بِالْمُشَفَّعْ * يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ*

**

*بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ * لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ
حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ * إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَي النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا
الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا **

**

**

*الجَنَّةُ وَنَعِيْمُهَا سَعْدً لِمَنْ يُصَلِّيْ وَيُسَلِّمُ وَيُبَاِركُ عَلَيْهِ *

**

*بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ*

*أَبْتَدِئُ اْلإِمْلاَءَ بِاسْمِ الذَّاتِ الْعَلِيَّةْ **`**مُسْتَدِرًّا فَيْضَ الْبَرَكَاتِ عَلَى مَا أَنَالَهُ
وَأَوْلاَهْ **`**وَأُثَنِّيْ بِحَمْدٍ مَوَارِدُهُ سَائِغَةٌ هَنِيَّةْ **`**مُمْتَطِيًا مِنَ الشُّكْرِ الْجَمِيْلِ
مَطَايَاهْ **`**وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى النُّوْرِ الْمَوْصُوْفِ بِالتَّقَدُّمِ وَاْلأَوَّلِيَّةْ **`**اَلْمُتَنَقِّلِ
فِي الْغُرَرِ الْكَرِيْمَةِ وَالْجِبَاهْ **`**وَأَسْتَمْنِحُ اللهَ تَعَالَى رِضْوَانًا يَخُصُّ الْعِتْرَةَ
الطَّاهِرَةَ النَّبَوِيَّةْ **`**وَيَعُمُّ الصَّحَابَةَ وَاْلأَتْبَاعَ وَمَنْ وَالاَهْ **`**وَأَسْتَجْدِيْهِ هِدَايَةً
لِسُلُوْكِ السُّبُلِ الْوَاضِحَةِ الْجَلِيَّةْ **`**وَحِفْظًا مِنَ الْغَوَايَةِ فِيْ خِطَطِ الْخَطَاءِ وَخُطَاهْ
**`**وَأَنْشُرُ مِنْ قِصَّةِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ بُرُوْدًا حِسَانًا عَبْقَرِيَّةْ **`**نَاظِمًا مِنَ النَّسَبِ
الشَّرِيْفِ عِقْدًا تُحَلَّى الْمَسَامِعُ بِحُلاَهْ **`**وَأَسْتَعِيْنُ بِحَوْلِ اللهِ تَعَالَى وَقُوَّتِهِ الْقَوِيَّةْ
**`**فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ **`***

**

**

**

Aku memulai membacakan ( kitab ini ) dengan menyebut Nama Dzat Tuhan
yang Maha Tinggi, seraya memohon derasnya luapan berkah atas apa yang
telah di berikan oleh- Nya. Dan keduanya, aku panjatkan puji yang muara
airnya enak nan segar, sambil menaiki kendaran syukur yang indah. Dan
aku panjatkan sholawat dan salam kepada Cahaya ( Nabi SAW ) yang
mendahului makhluk lain, yang berpindah – pindah di dahi yang indah dan
cerah. Dan aku memohon pemberian Alloh SWT berupa keridloan yang husus
untuk para keluarga Nabi SAW yang suci, dan merata untuk para Shohabat,
pengikut, dan orang- orang yang menolongnya. Dan aku minta petunjuk- Nya
agar bisa melewati jalan yang jelas dan agar di jaga dari kesesatan di
dalam garis- garis dan langkah kesalahan. Dan aku sebar luaskan baju
keindahan berupa kisah Maulid ( kelahiran Nabi SAW ) dengan bahasa arab,
seraya menata kalung berupa nasab beliau yang mulya yang sekira
menghiasi pendengaran. Dan aku minta tolong dengan kekuatan Alloh Ta’ala
yang sangat kuat, karena tiada daya dan upaya selain dengan Alloh SWT.

 

*عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم.*

*اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ*

**

*وَ بَعْدُ؛ فَأَقُوْلُ هُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَاسْمُهُ شَيْبَةُ الْحَمْدِ
حُمِدَتْ خِصَالُهُ السَّنِيَّةْ **`**إِبْنِ هَاشِمٍ وَاسْمُهُ عَمْرٌو بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ وَاسْمُهُ الْمُغِيْرَةُ
الَّذِيْ يَنْتَمِي اْلإِرْتِقَاءُ لِعُلْيَاهْ **`**إِبْنِ قُصَيٍّ وَاسْمُهُ مُجَمِّعٌ سُمِّيَ بِقُصَيٍّ لِتَقَاصِيْهِ فِيْ
بِلاَدِ قُضَاعَةَ الْقَصِيَّةْ **`**إِلَى أَنْ أَعَادَهُ اللهُ تَعَالَى إِلَى الْحَرَمِ الْمُحْتَرَمِ فَحَمَى
حِمَاهْ **`**إبْنِ كِلاَبٍ وَاسْمُهُ حَكِيْمُ ابْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍِ بْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرٍ وَاسْمُهُ
قُرَيْشٌ وَإِلَيْهِ تُنْسَبُ الْبُطُوْنُ الْقُرَشِيَّةْ **`**وَمَا فَوْقَهُ كِنَانِيٌّ كَمَا جَنَحَ إِلَيْهِ الْكَثِيْرُ
وَارْتَضَاهْ **`**إِبْنِ مَالِكِ ابْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ وَهُوَ
أَوَّلُ مَنْ أَهْدَى الْبُدْنَ إِلَى الرِّحَابِ الْحَرَمِيَّةْ **`**وَسُمِعَ فِيْ صُلْبِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ اللهَ تَعَالَى وَلَبَّاهْ **`**إِبْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَ وَهٰذَا
سِلْكٌ نَظَّمَتْ فَرَائِدَهُ بَنَانُ السُّنَّةِ السَّنِيَّةْ **`**وَرَفْعُهُ إِلَى الْخَلِيْلِ إِبْرَاهِيْمَ أَمْسَكَ عَنْهُ
الشَّارِعُ وَأَبَاهْ **`**وَعَدْنَانُ بِلاَ رَيْبٍ عِنْدَ ذَوِي الْعُلُوْمِ النَّسَبِيَّةْ **`**إِلَى الذَّبِيْحِ
إِسْمَاعِيْلَ نِسْبَتُهُ وَمُنْتَمَاهْ **`**فَأَعْظِمْ بِهِ مِنْ عِقْدٍ تَأَلَّقَتْ كَوَاكِبُهُ الدُّرِّيَّةْ **`**وَكَيْفَ
لاَ وَالسَّيِّدُ اْلأَكْرَمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسِطَتُهُ الْمُنْتَقَاهْ **`***

*نَسَبٌ تَحْسَبُ الْعُلاَ بِحَلاَهْ **@**قَلَّدَتْهَا نُجُوْمَهَا الْجَوْزَاءُ*

*حَـبَّذَا عِقْدُ سُؤْدَدٍ وَفَخَارٍ **@**أَنْتَ فِيْهِ الْيَتِيْمَةُ الْعَصْمَاءُ*

*وَأَكْرِمْ بِهِ مِنْ نَسَبٍ طَهَّرَهُ اللهُ تَعَالَى مِنْ سِفَاحِ الْجَاهِلِيَّةْ **`**أَوْرَدَ الزَّيْنُ
الْعِرَاقِيُّ وَارِدَهُ فِيْ مَوْرِدِهِ الْهَنِيِّ وَرَوَاهْ **`***

*حَفِظَ اْلإِلـٰهُ كَرَامَةً لِمُحَـمَّدِ **@**آبَاءَهُ اْلأَمْجَادَ صَوْنًا ِلاسْمِهِ*

*تَرَكُوا السِّفَاحَ فَلَمْ يُصِبْهُمْ عَارُهُ **@**مِنْ آدَمٍ وَإِلَى أَبِيْهِ وَأُمِّــهِ*

*سَرَاةٌ سَرَى نُوْرُ النُّبُوَّةِ فِيْ أَسَارِيْرِ غُرَرِهِمُ الْبَهِيَّةْ **`**وَبَدَرَ بَدْرُهُ فِيْ جَبِيْنِ جَدِّهِ
عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَابْنِهِ عَبْدِ اللهْ **`***

 

Setelah itu semua, Dia adalah Sayyiduna *Muhammad* putra Abdulloh putra
Abdul Muttholib yang nama beliau adalah Syaibatul hamd yang di puji
kelakuan- kelakuan beliau yang amat luhur. Beliau putra Hasyim yang nama
aslinya adalah ‘Amr, putr ‘Abdi Manaf, beliau bernama Mughiroh yang amat
tinggi perangainya. Putra Qushoy yang nama aslinya adalah Mujammi’.
Beliau mendapat julukan Qushoyy ( jauh ) di sebabkan kejauhan beliau di
negeri Qudlo’ah yang amat jauh, sampai ahirnya beliau di kembalikan oleh
Alloh SWT ke tanah Harom hingga beliau menjaga tanahnya yang dipagar.
 Beliau putra Kilab yang nama aslinya adalah Hakim, putra Murroh, putra
Ka’b putra Luayy putra Gholib putra Fihr yang nama aslinya adalah
Quroisy dan kepadanya–lah suku- suku Quroisy di nisbahkan. Sedangkan
bangsa yang di nisbahkan di atas beliau di sebut bangsa Kinany,
sebagaimana pendapat yang di pilih dan di restui oleh kebanyakan para
Ulama’. Putra Malik putra Nadlr putra Khuzaimah putra Mudrikah putra
Ilyas, orang yang pertama kali menghadiahkan onta untuk tanah harom dan
di tulang rusuknya terdengar Nabi SAW berdzikir dan membaca talbiyah.
Beliau adalah putra Mudlor putra Nizar putra Ma’add putra ‘Adnan.

Ini semua adalah kalung yang intan- intannya di tata oleh jemari Sunnah
yang luhur. Selanjutnya, nasab ini tidak di perkenankan untuk di
tinggikan lagi oleh Nabi SAW. Namun yang jelas, ‘Adnan berintisab sampai
ke Nabi Isma’il Adzzabih menurut para ahli di bidang nasab. Sungguh..
sangat mena’jubkan keagungan ( nasab yang mirip ) kalung yang berkilau
bintang- bintangnya yang bersinar ! !. Bagaimana      tidak ?, toh yang
berada di tengahnya adalah *Sayyid* yang sangat mulya !.

Itulah nasab (keturunan ) yang oleh sebab perhiasannya , 

di sangka oleh keluhuran 

bahwa bintang- bintangnya di kalungi oleh bintang Jauza’. 

Sungguh menyenangkan kalung kebesaran dan keagungan yang mana 

engkau- lah kalung itu yang tiada duanya. 

Sungguh mena’jubkan mulyanya nasab yang di sucikan oleh Alloh SWT dari
perzinahan jahiliyah. Azzain Al’iroqy telah mengajak penimbanya ( datang
) di tempat airnya yang enak dan ( maksudnya ) telah meriwatkannya.

Tuhan telah menjaga – demi memulyakan Nabi Muhammad SAW- 

bapak- bapaknya yang mulya, demi menjaga namanya. 

Mereka tinggalkan perzinahan, 

hingga tiada terhampiri oleh aibnya zina, 

mulai dari Nabi Adam sampai ayah  dan ibunya. 

Mereka adalah para orang mulya yang cahaya kenabian beredar di dalam
garis- garis dahi yang bersinar, dan sang purnama terbit di kening
neneknya, yaitu ‘Abdil Muttholib dan putranya, yaitu ‘Abdillah.

 

*عَطِّرِ اللَّهُمَّ قَبـْرَهُ الْكَرِيْـمَ * بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلَاةٍ وَتَسْلِيْمٍ*

*اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ*

*وَلَمَّا أَرَادَ اللهُ تَعَالَي إِبْرَازَ حَقِيْقَتِهِ الْمُحَمَّدِيَّةْ * وَإِظْهَارَهُ جِسْمًا وَرُوْحًا بِصُوْرَتِهِ
وَمَعْنَاهْ * نَقَلَهُ إِلَي مَقَرِّهِ مِنْ صَدَفَةِ آمِنَةَ الزُّهْرِيَّةْ * وَخَصَّهَا الْقَرِيْبُ الْمُجِيْبُ بِأَنْ
تَكُوْنَ أُمًّا لِمُصْطَفَاهْ * وَنُوْدِيَ فِي السَّمَوَتِ وَالْأَرْضِ بِحَمْلِهَا لِأَنْوَارِهِ الذَّاتِيَّةْ * وَصَبَا
كُلُّ صَبٍّ لِهُبُوْبِ نَسِيْمِ صَبَاهْ * وَكُسِيَتِ الْأَرْضُ بَعْدَ طُوْلِ جَدْبِهَا مِنَ النَّبَاتِ حُلَلًا سُنْدُسِيَّةْ
* وَأَيْنَعَتِ الثِّمَارُ وَأَدْنَى الشَّجَرُ لِلْجَانِي جَنَاهْ * وَنَطَقَتْ بِحَمْلِهِ كُلُّ دَابَّةٍ لِقُرَيْشٍ
بِفِصَاحِ الْأَلْسُنِ الْعَرَبِيَّةْ * وَخَرَّتِ الْاَسِرَّةُ وَالْأَصْنَامُ عَلَي الْوُجُوْهِ وَالْأَفْوَاهْ *
وَتَبَاشَرَتْ وُحُوْشُ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ وَدَوَابُّهَا الْبَحْرِيَّةْ * وَاحْتَسَتِ الْعَوَالِمُ مِنَ السُّرُوْرِ
كَأْسَ حُمَيَّاهْ * وَبُشِّرَتِ الْجِنُّ بِإِظْلَالِ زَمَنِهِ وَانْتَهَكَتِ الْكَهَانَةُ وَرَهِبَتِ الرَّهْبَانِيَّةْ *
وَلَهِجَ بِخَبَرِهِ كُلُّ حِبْرٍ خَبِيْرٍ وَفِيْ حُلَي حُسْنِهِ تَاهْ * وَأُتِيَتْ أُمُّهُ فِي الْمَنَامِ فَقِيْلَ لَهَا
إِنَّكِ قَدْ حَمَلْتِ بِسَيِّدِ الْعَالَمِيْنَ وَخَيْرِ الْبَرِيَّةْ * وَسَمِّيْهِ إِذَا وَضَعْتِهِ مُحَمَّدًا لِأَنَّهُ سَتُحْمَدُ
عُقْبَاهْ **

Setelah kehendak Alloh SWT memunculkan hakikat Nabi Muhammad SAW dan
menjelmakannya secara jasmany dan ruhany, maka Dia meminahkannya ke
tempat persinggahan-nya, yaitu kandungan Sayyidah Aminah Azzuhriyah yang
mirip dengan penyimpanan mutiara. Memang, ia di sepesialkan oleh- Nya
menjadi ibu Nabi Mushthofa. Di langit dan di bumi di umumkan bahwa S.
Aminah menandung Nabi Muhammad yang bercahaya. Bagi setiap orang yang
merindukan tambah merindukannya agar bias menghirup udara segarnya. Bumi
yang telah lama gersang menjadi terhiasi oleh tumbuh- tumbuhan yang
mirip dengan pkian sundus. Buah- buahan menjadi matang dan pepohonan
mengayunkan buahnya pada orang yang ingin memetiknya. Setiap binatang
yang di miliki suku Quroisy dengan jelas menyuarakan di kandung-nya Nabi
SAW. Kursi- kursi kerajaan dan berhala- berhala terjugkal di wajah dan
mulutnya. Binatang- binatang liar di timur dan barat dan yang berada di
lau ikut bergembira. Seluruh alam ikut meneguk gelas- gelas kegembiraan.
Para jin di hibur dengan dekatnya kelahiran Nabi SAW, ramalan- ramalan
tukang ramal menjadi tidak tepat, kependetaan menjadi ketakutan. Setiap
orang pintar dan tahu rindu dengan kabar ini, dan mereka di buat bingung
dengan keindahan beliau. Di saat sedang tidur, ibu Aminah di datangi
seseorang dan di katakan padanya, “Sungguh, engkau sedang mengandung
pemimpin seluruh jagad dan orang terbaik dari mereka. Maka jika engkau
sudah melairkan- nya, maka berilah nama ‘Muhammad’ ( orang yang banyak
di puji ), karena pada akhirnya akan banyak di puji.”

 

*عَطِّرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْمَ * بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلَاةٍ وَتَسْلِيْمٍ*

*اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ*

*وَلَمَّا تَمَّ مِنْ حَمْلِهِ شَهْرَانِ عَلَى مَشْهُوْرِ الْاَقْوَالِ الْمَرْضِيَّةْ * تُوُفِّيَ بِالْمَدِيْنَةِ الْمُنَوَّرَةِ
أَبُوْهُ عَبْدُ اللهْ * وَكَانَ قَدِ اجْتَازَ بِأَخْوَالِهِ بَنِيْ عَدِيٍّ مِنَ الطَّائِفَةِ النَّجَّارِيَّةْ * وَمَكَثَ
فِيْهِمْ شَهْرًا سَقِيْمًا يُعَانُوْنَ سُقْمَهُ وَشَكْوَاهْ * وَلَمَّا تَمَّ مِنْ حَمْلِهِ عَلَي الرَّاجِحِ تِسْعَةُ
أَشْهُرٍ قَمَرِيَّةْ * وَآنَ لِلزَّمَانِ أَنْ يَنْجَلِيَ عَنْهُ صَدَاهْ * حَضَرَ أُمَّهُ لَيْلَةَ مَوْلِدِهِ آسِيَةُ
وَمَرْيَمُ فِيْ نِسْوَةٍ مِنَ الْحَظِيْرَةِ الْقُدْسِيَّةْ * وَأَخَذَهَا الْمَخَاضُ فَوَلَدَتْهُ صَلَّي الله ُعَلَيْهِ
وَسَلَّمَ نُوْرًا يَتَلَأْلَأُ سَنَاهْ **

*وَمُحَيًّا كَالشَّمْسِ مِنْكَ مُضِئْ ُ* أَسْفَرَتْ عَنْهُ لَيْلَةٌ غَرَّاءُ*

*لَيْلَةُ الْمَوْلِدِ الَّذِيْ كَانَ لِلدِّيـْ*ـنِ سُرُوْرٌ بِيَوْمِهِ وَازْدِهَاءُ*

*يَوْمَ نَالَتْ بِوَضْعِهِ ابْنَةُ وَهْبِ * مِنْ فَخَارٍ مَا لَمْ تَنَلْهُ النِّسَاءُ*

*وَأَتَتْ قَوْمَهَا بِأَفْضَلَ مِمَّا * حَمَلَتْ قَبْلُ مَرْيَمُ الْعَذْرَاءُ*

*مَوْلِدٌ كَانَ مِنْهُ فِيْ طَالِعِ الْكُفْـ*ـرِ وَبَالٌ عَلَيْهِمُ وَوَبَاءُ*

*وَتَوَالَتْ بُشْرَي الْهَوَاتِفِ أَنْ قَدْ * وُلِدَ الْمُصْطَفَي وَحَقَّ الْهَنَاءُ*

*هَذَا، وَقَدِ اسْتَحْسَنَ الْقِيَامَ عِنْدَ ذِكْرِ مَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ أَئِمَّةٌ ذَوُوْ رِوَايَةٍ وَرَوِيَّةْ *
فَطُوْبَي ِلمَنْ كَانَ تَعْظِيْمُهُ صَلَّي الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَايَةَ مَرَامِهِ وَمَرْمَاهْ * *

Setelah beliau genap di kandung selama dua bulan menurut qoul masuhur
yang di ridloi, di Almadinah Almunawwaroh abah beliau ( S. ‘Abdulloh )
di panggil pulang oleh Alloh SWT. Sebelum itu, beliau mampir lewat di
paman- paman- nya, yaitu Bani ‘Ady ( suku kecil Bani Najjar ). Beliau
berada di tengah- tengah mereka selama satu bulan dalam keadaan sakit
dan di rawat oleh mereka. Dan setelah genap sembilan bulan qomariyyah
menurut qoul yang rojih, dan sudah saatnya zaman bersih dari karat, maka
di malam kelahirannya ibunya di datangi oleh Asiyah ( istri ‘Fir’aun )
dan S. Maryam bersama rombongan para wanita yang suci. Dan ahirnya Ibu
Aminah bersalin dan melahirkan- nya dalam keadaan bercahaya yang sangat
bersinar dari atasnya.

Wajahmu bagaikan mentari berinar. Malam yan cerah semakin cerah.

Itulah malam kelahiran yang menjadikan agama menjadi gembira dan berseri.

Di hari itu, putri Wahab ( S. aminah mendapatkan keagungan yang tidak
bisa di raih banyak wanita. 

Ia mendatangi kaumnya dengan membawa anak yang utamanya melebihi yang
di kandung oleh S. Maryam ( ‘Isa AS ).

Kelahiran yang membawa kerusakan dan musibah pada munculnya kekufuran.

/Suara- suara yang berisi kabar gembira terus berbunyi, demi memberi
sambutan kelahiran Nabi yang terpilih SAW, dan tibalah keni’matan.

Camkan ini semua !. Di saat kita menyebutkan detik- detik kelahiran
Beliau SAW, kita di sayugyakan berdiri oleh para Ulama’ yang kapabel dan
ahli di bidang meriwayatkan hadits. Maka, beruntunglah orang- orang yang
peng- agungan terhadap Nabi SAW menjadi tujuannya.

**

*عطر اللهم قبره الكريم * بعرف شذيّ من صلاة وتسليم*

*اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ***

*وَبَرَزَ صَلَّي الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَي الْاَرْضِ رَافِعًا رَأْسَهُ إِلَي السَّمَاءِ
الْعَلِيَّةْ * مُوْمِيًا بِذَلِكَ الرَّفْعِ اِلَي سُوْدَدِهِ وَعُلَاهْ * وَمُشِيْرًا إِلَي رِفْعَةِ قَدْرِهِ عَلَي
سَائِرِ الْبَرِيَّةْ * بِأَنَّهُ الْحَبِيْبُ الَّذِيْ حَسُنَتْ طِبَاعُهُ وَسَجَايَاهْ * وَدَعَتْ أُمُّهُ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ
وَهُوَ يَطُوْفُ بِهَاتِيْكَ الْبَنِيَّةْ * فَأَقْبَلَ مُسْرِعًا وَنَظَرَ إِلَيْهِ وَبَلَغَ مِنَ السُّرُوْرِ مُنَاهْ *
وَأَدْخَلَهُ الْكَعْبَةَ الْغَرَّاءَ وَقَامَ يَدْعُوْ بِخُلُوْصِ النِّيَّةْ * وَيَشْكُرُ اللهَ تَعَالَي عَلَي مَا مَنَّ
بِهِ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهْ * وَوُلِدَ صَلَّي الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظِيْفًا مَخْتُوْنًا مَقْطُوْعَ السُّرِّ بِيَدِ
الْقُدْرَةِ الْإِلَهِيَّةْ * طَيِّبًا دَهِيْنًا مَكْحُوْلَةً بِكُحْلِ الْعِنَايَةِ عَيْنَاهْ * وَقِيْلَ خَتَنَهُ جَدُّهُ
بَعْدَ سَبْعِ لَياَلٍ سَوِيَّةْ * وَأَوْلَمَ وَأَطْعَمَ وَسَمَّاهُ مُحَمَّدًا وَأَكْرَمَ مَثْوَاهْ * *

 

Belau SAW terlahir dalam keadaan meletakkan kedua tangannya di atas
tanah, mengangkat kepalanya ke langit yang tinggi. Dengat isyarat (
pratanda )ketinggian beliau di atas segala mahluk. Oleh sebab beliau
adalah orang yang di kasihi yang amat baik perangai dan budinya. ( Saat
itu ) ibunya memanggil S. ‘Abdil Muttholib yang sedang bertawaf di
bangunan itu ( Ka’bah ). Lalu bergegas kemabli dan melihatnya dan beliau
sampai di ujung kegembiraan. Lalu beliau membawanya masuk di dalam
Ka’bah yang cerah dan berdoa dengan ketulusan hati. Beliau bersyukur
pada Alloh SWT atas pemberian ini.

Beliau SAW di lahirkan dalam keadaan bersih dan sudah bersunat dengan
kekuasaan Tuhan, harum, berminyak, dan bercelak kedua matanya dengan
celak hasil perhatian Tuhan. Namun ada yang mengatakan bahwa beliau di
sunat oleh neneknya setelah berumur genap tujuh hari. Lalu beliau
mengadakan walimah dan memberinya nama *Muhammad SAW, *dan memulyakan
kedudukannya.

 

*عَطِّرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْمَ * بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ َصَلَاةٍ وَتَسْلِيْمٍ*

*اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ*

*وظهر عند ولادته خوارق وغرائب غيبية * إرهاصا لنبوته وإعلاما بأنه مختار
الله تعالي ومجتباه * وزيدت السماء حفظا وردّ عنها المردة وذوو النفوس
الشيطانية * ورجمت رجوم النيرات كل رجيم في حال مرقاه *  وتدلت إليه صلي
الله عليه وسلم الأنجم الزهرية * واستنارت بنورها وهاد الحرم ورباه * وخرج
معه نور أضاءت له قصور الشام القيصرية * فرأها من ببطاح مكة داره ومغناه *
وانصدع الإيوان بالمدائن الكسروية * الذي رفع أنوشروان سمكه وسواه * وسقط
أربع عشرة من شرفاته العلوية * وكسر ملك كسري لهول ما أصابه وعراه * وخمدت
النيران المعبودة بالممالك الفارسية * لطلوع بدره المنير وإشراق محياه *
وغاضت بحيرة ساوه وكان بين همذان وقمّ من البلاد العجمية * وجفّت اذ كف واكف
موجها الثجاج ينابيع هاتيك المياه * وفاض وادي سماوة وهي مفازة في فلاة
وبرية * لم يكن بها قبل ماء ينقع للظمئان اللهاة * وكان مولده صلي الله
عليه وسلم بالموضع المعروف بالعراص المكية * والبلد الذي لايعضد شجره ولا
يختلي خلاه * واختلف في عام ولادته وفي شهرها وفي يومها علي أقوال للعلماء
مروية * والراجح أنها قبيل فجر يوم الإثنين ثاني عشر شهر ربيع الاول من عام
الفيل الذي صدَّه الله عن الحرم وحماه * *

 

Di saat kelahiran Nabi SAW terjadi banyak keanehan gaib, sebagai dasar
nubuwahnya dan agar di ketahui bahwa beliau adalah orang yang di pilih
oleh-Nya. Langit di tambah penjagaan-nya dan setan- setan yang nakal di
tolak dari langit. Dan setiap setan yang ingin naik ke langit di hantam.
Bintang- bintang yang berkilau mendekat pada beliau dan menyebabkan
dataran tinggi dan rendahnya tanah Harom menjadi bersinar. Bersamaan
dengan kelahiran beliau, muncul cahaya yang sinarnya sampai menerangi
gedung- gedung Kaesar yang berada di Syam. Dan setiap orang yang berada
di Makkah bias melihat cahaya ini. Pagar yang ada di kota Kisro ( Iran )
saat itu pecah, padahal telah di bangun dengan megah oleh raja Anu
Syarwan. Bahkan menaranya yang berjumlah empat belas ikut terjatuh.
Kerajaan Kisro ( Faris ) hancur ( saat itu ), oleh saking dahsyatnya
kelahiran Nabi SAW. Api yang di sembah di kerajan Persia menjadi padam
oleh sebab terbitnya Sang Purnama yang bersinar wajahnya. Danau Sawah
yang terletak di antara Hamadzan dan Qumm di negeri ‘ajam ( luar arab )
menjadi kering dan sumber- sumbernya menjadi mati oleh sebab. Lembah
Samawah yang terletak di antara daratan dan padang belantara yang
sebelumnya sama sekali tidak ada airnya untuk orang yang dahaga, menjadi
penuh.

Beliau SAW di lahirkan di tanah Makkah, yaitu negeri yang tidak boleh di
petik pepohonan- nya. Sedangkan mengenai tahun, bulan, dan hari
kelahiran- nya, banyak beda pendapat dari para ‘Ulama. Namun qoul yang
paling unggul mengatakan bahwa Beliau lahir di saat fajar hampir terbit
di hari Senin tanggal dua belas bulan Robi’ul Awwal dari tahun Gajah
yang mana telah di halau oleh Alloh SWT dari memasuki tanah Haram.

 

*عَطِّرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْمَ * بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَتَسْلِيْم*

*وأرضعته أمه أياما ثم أرضعته ثويبة الأسلمية * التي اعتقها أبو لهب حين
وافته عند ميلاده عليه الصلاة والسلام ببشراه * فأرضعته مع ابنها مسروح
وأبي سلمة وهي به حفية * وأرضعت قبله حمزة الذي حمد في نصرة الدين سراه *
وكان صلي الله عليه وسلم يبعث إليها من المدينة بصلة وكسوة هي بها حرية *
إلي أن أورد هيكلها رائد المنون الضريح وواراه * قيل علي دين قومها الفئة
الجاهلية * وقيل أسلمت أثبت الخلاف ابن منده وحكاه * ثم أرضعته الفتاة
الحليمة السعدية * وكان قد ردّ كل من القوم ثديها لفقرها وأباه * فأخصب
عيشها بعد المحل قبل العشية * ودرّ ثدياها بدر در لبنه اليمين منهما ولبن
الأخر أخاه * وأصبحت بعد الهزال والفقر غنية * وسمنت الشارف لديها والشياه
* وانجاب عن جانبها كل ملمة ورزية * وطرز السعد برد عيشها الهني ووشاه * *

Selama bebrapa hari bliau SAW di susui oleh ibunya, kemudian di susui
oleh ibu Tsuwaibah Al-Aslamiyyah. Ia adalah mantan budak milik Abu Lahab
yang di merdekakan oleh majikannya sejak ia datang padanya memberi kabar
gembira tentang kelahiran Nabi SAW. Ia menyusui baginda bersama putranya
yang bernama Masruh dan Abi Salamah dengan sangat senang. Sebelum itu ia
menyusui Hamzah yang dapat sanjungan di dalam pembelaannya pada Islam.

Dan setelah Nabi SAW berada di Madinah, beliau memberinya pakaian yang
layak dan sesuatu yang lain, sampai sepeninggalnya. Adapun agama yang ia
anut, ada yang menceritakan bahwa ia tetap memeluk agama kaumnya, yaitu
Jahiliyyah. Dan ada pula yang mengatakan bahwa ia telah masuk Islam,
sebagaimana yang telah di ceritakan oleh ‘Ulama yang bernama Ibnu Mandah.

Kemudian ( setelah beliau selesai di susui oleh Tsuwaibah ), beliau di
susui oleh seorang yang masih muda. Yaitu Halimah Assa’diyyah. Sebelum
itu, ia tidak laku sebagai penyusu karena saking fakirnya. Namun setelah
ia menyusui Nabi SAW, langsung ia menjadi kaya di sore harinya. Sampai
air susunya mengalir dengan deras dan hingga susu yang lain di pakai
menyusui saudara Nabi SAW. Dan ( berkah dari menyusui Nabi SAW ) ia
menjadi gemuk dan kaya, begitu juga onta dan kambing yang ada di
dekatnya, dan setiap musibah terhindar dari dirinya dan ahirnya hidupnya
menjadi enak.

**

*عطر اللهم قبره الكريم * بعرف شذي من صلاة وتسليم*

*وكان صلي الله عليه وسلم يشب في اليوم شباب الصبي في الشهر بعناية ربانية
* فقام علي قدميه في ثلاث ومشي في خمس وقويت في تسع من الشهور بفصيح النطق
قواه * وشق الملكان صدره الشريف لديها وأخرجا منه علقة دموية * وأزالا منه
حظ الشيطان وبالثلج غسلاه * وملئاه حكمة ومعاني إيمانية * ثم خاطاه وبخاتم
النبوة ختماه * ووزناه فرجح بألف من أمته الأمة الخيرية * ونشأ صلي الله
عليه وسلم علي أكمل الأوصاف من حال صباه * ثم ردته صلي الله عليه وسلم إلي
أمه وهي به غير سخية * حذرا من أن يصاب بمصاب حادث تخشاه * ووفدت عليه
حليمة في أيام خديجة السيدة الوضية * فحباه من حبائه الوافر بحباه * وقدمت
عليه يوم حنين فقام إليها وأخذته الأريحية * وبسط لها من ردائه الشريف بساط
بره ونداه * والصحيح أنها أسلمت مع زوجها والبنين والذرية * وقد عدهما في
الصحابة جمع من ثقاة الرواة * ***

Semenjak masih kecil, Nabi SAW berkembang sehari sebagaimana umumnya
anak selama satu bulan, dengan pertolongan Tuhan. Maka dalam tempo tiga
bulan, beliau sudah bisa berdiri di dua kakinya. Bisa berjalan pada usia
lima bulan, dan menjadi kuat fisiknya di usianya yang ke sembilan bulan,
dengan di sertai pembicaraan yang terampil. Di saat itu juga ada dua
Malaikat melakukan pembedahan pada dada beliau yang mulya dan
mengeluarkan segumpal darahnya, yang mana darah itu merupakan bagian
setan, lalu membasuhnya dengan salju. Keduanya mengisinya dengan hikmah
dan keimanan. Kemudian keduanya menjahitnya dan ahirnya memberikan cap
kenabian. Keduanya juga menimbangnya dengan seribu dari ummat beliau
yang terbaik, namun beliau lebih berat dari semuanya. Sejak beliau masih
kecil sudah berada di dalam peringai yang sangat sempurna.

Kemudian, setelah peristiwa pembedahan tersebut ibu Halimah
mengembalikannya pada ibu beliau dalam keadaan tiada tega, karena
hawatir terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan. Kemudian, pada saat
setelah beliau nikah dengan Khodijah, seorang besar yang bersinar, ibu
halimah pernah berkunjung pada Nabi SAW. Lalu beliau memberinya dengan
pemberian yang besar. Dan di saat terjadi perang Hunain, ibu Halimah
juga perna menemui Nabi SAW. Lalu beliau menghormatinya dengan pemberian
dan mempersilahkan duduk di atas selendang yang sengaja beliau gelar
untuknya. Sedangkan agama yang ia peluk menurut qoul yang sohih adalah
Islam, ia masuk Islam bersama anak cucunya, sebagaimana ia di
katagorikan sebagai Sohabat oleh sekelompok perowi yang bisa di percaya.

 

*عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم***

*اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ***

*وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعَ سِنِيْنَ خَرَجَتْ بِهِ أُمُّهُ إِلَى الْمَدِيْنَةِ النَّبَوِيَّةْ
**C**ثُمَّ عَادَتْ فَوَافَتْهَا بِاْلأَبْوَاءِ أَوْ بِشِعْبِ الْحَجُوْنِ  الْوَفاَةْ **C**وَحَمَلَتْهُ حَاضِنَتُهُ
أُمُّ أَيْمَنَ الْحَبَشِيَّةْ **C**اَلَّتِيْ زَوَّجَهَا بَعْدُ مِنْ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ مَوْلاَهْ **C**وَأَدْخَلَتْهُ
عَلَى جَدِّهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ وَرَقَّ لَهُ وَأَعْلَى رُقِيَّةْ **C**وَقَالَ: إِنَّ لاِبْنِيْ هٰذَا
لَشَأْنًا عَظِيْمًا فَبَخٍ بَخٍ لِمَنْ وَقَّرَهُ وَوَالاَهْ **C**وَلَمْ تَشْكُ فِيْ صِبَاهُ جُوْعًا وَلاَ عَطَشًا قَطُّ
نَفْسُهُ اْلأَبِيَّةْ **C**وَكَثِيْرًا مَا غَدَا فَاغْتَذَى بِمَاءِ زَمْزَمَ فَأَشْبَعَهُ وَأَرْوَاهْ **C**وَلَمَّا
أُنِيْخَتْ بِفِنَاءِ جَدِّهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ مَطَايَا الْمَنِيَّةْ **C**كَفَلَهُ عَمُّهُ أَبُوْ طَالِبٍ شَقِيْقُ أَبِيْهِ
عَبْدِ اللهْ **C**فَقَامَ بِكَفَالَتِهِ بِعَزْمٍ قَوِيٍّ وَهِمَّةٍ وَحَمِيَّةْ **C**وَقَدَّمَهُ عَلَى النَّفْسِ
وَالْبَنِيْنَ وَرَبَّاهْ **C**وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِثْنَيْ عَشَرَ سَنَةً رَحَلَ بِهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمُّهُ إِلَى الْبِلاَدِ الشَّامِيَّةْ **C**وَعَرَفَهُ الرَّاهِبُ بَحِيْرَا  بِمَا حَازَهُ
مِنْ وَصْفِ النُّبُوَّةِ وَحَوَاهْ **C**وَقَالَ: إِنِّيْ أَرَاهُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ وَرَسُوْلَ اللهِ وَنَبِيَّهْ
**C**قَدْ سَجَدَ لَهُ الشَّجَرُ وَالْحَجَرُ وَلاَ يَسْجُدَانِ إِلاَّ لِنَبِيٍّ أَوَّاهْ **C**وَإِنَّا لَنَجِدُ نَعْتَهُ
فِي الْكُتُبِ الْقَدِيْمَةِ السَّمَاوِيَّةْ **C**وَبَيْنَ كَتِفَيْهِ خَاتَمُ النُّبُوَّةِ قَدْ عَمَّهُ النُّوْرُ وَعَلاَهْ
**C**وَأَمَرَ عَمَّهُ بِرَدِّهِ إِلَى مَكَّةَ تَخَوُّفًا عَلَيْهِ مِنْ أَهْلِ دِيْنِ الْيَهُوْدِيَّةْ **C**فَرَجَعَ بِهِ
وَلَمْ يُجَاوِزْ مِنَ الشَّامِ الْمُقَدَّسِ بُصْرَاهْ **C***

Setelah beliau menginjak usia empat tahun, beliau di ajak oleh ibunya
pergi ke Madinah. Kemudia sekembalinya dari Madinah dan tepatnya di desa
Abwa’ atau di Syi’bil Hajun ( dua pendapat ), Sang ibu wafat. Lalu
beliau di gendong dan di asuh oleh Ummu Ayman Alhabasyiyyah yang mana
beliau setelah itu di nikahkan oleh Nabi SAW dengan Zaid bin Haritsah,
seorang mantan hamba Nabi SAW. Kemudian ( setelah sampai di Makkah ) ibu
asuh membawanya masuk ke nenek Abd Muttholib, lalu sang nenek
merangkulnya dan mengasihinya dan menggendong- nya ke atas. Seraya
beliau berkata, “Anak- ku ini memilki sesuatu yang sangat agung, maka
bagus sekali orang yang memulyakan dan mengasihinya.” Semenjak belau
masih kecil, beliau tidak pernah sama sekali mengadukan lapar dan
dahaga. Sering sekali beliau tidak makan, lalu meminum air zamzam dan
ini sudah cukup menjadikan kenyang. Dan setelah nenek Abd. Muttholib
meninggal, beliau di asuh oleh sang paman (saudara kandung sang ayah ),
yaitu Abi Tholib dengan baik dan menjaganya dengan penuh, dan bahkan
beliau lebih di dahulukan dari pada putra- putra sang paman sendiri.

Setelah beliau sampai ke usianya yang ke dua belas, beliau di ajak pergi
oleh pamannya ke negeri Syam. Di sana oleh pendeta Buhairo tahu pada
anak calon nabi ini dari sifat- sifat kenabian yang ada pada diri Nabi
SAW. Ia berkata, “Aku yakin anak ini bakal menjadi nabi dan rosul. Pohon
dan batu pada sujud padanya, padahal keduanya tiada bersujud kecuali
kepada nabi yang  banyak kembalinya pada Alloh SWT. Kami menemukan ciri-
cirinya di dalam kitab- kitab samawi yang kuno. Di antara kedua punggung
Nabi SAW ada cap kenabian yang di selimuti oleh cahaya.” Kemudian
pendeta memerintahkan paman Nabi SAW agar di bawa pulang kembali, karena
menghawatirkan terjadi sesuatu dari orang- orang Yahudi.  Ahirnya Sang
paman membawanya pulang dan tidak sampai melewati Bushro sebuah kota
yang ada di Syam.

 

*عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم*

*اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ *

*وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ سَنَةً سَافَرَ إِلَى بُصْرَى فِيْ تِجَارَةٍ
لِخَدِيْجَةَ الْفَتِيَّةْ **C**وَمَعَهُ غُلاَمُهَا مَيْسَرَةُ يَخْدِمُهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ وَيَقُوْمُ بِمَا
عَنَاهْ **C**وَنَزَلَ تَحْتَ شَجَرَةٍ لَدَى صَوْمَعَةِ نَسْطُوْرَا رَاهِبِ النَّصْرَانِيَّةْ **C**فَعَرَفَهُ
الرَّاهِبُ إِذْ مَالَ إِلَيْهِ ظِلُّهَا الْوَارِفُ وَأَوَاهْ **C**وَقَالَ: مَا نَزَلَ تَحْتَ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ
 قَطُّ إِلاَّ نَبِيٌّ ذُوْ صِفَاتٍ نَقِيَّةْ **C**وَرَسُوْلٌ قَدْ خَصَّهُ اللهُ تَعَالَى بِالْفَضَائِلِ وَحَبَاهْ
**C**ثُمَّ قَالَ لِمَيْسَرَةَ: أَفِيْ عَيْنَيْهِ حُمْرَةُ _نِ اسْتِظْهَارًا لِلْعَلاَمَةِ الْخَفِيَّةْ
**C**فَأَجَابَهُ بِنَعَمْ فَحَقَّ لَدَيْهِ مَا ظَنَّهُ فِيْهِ وَتَوَخَّاهْ **C**وَقَالَ لِمَيْسَرَةَ: لاَ تُفَارِقْهُ
وَكُنْ مَعَهُ بِصِدْقِ عَزْمٍ وَحُسْنِ طَوِيَّةْ **C**فَإِنَّهُ مِمَّنْ أَكْرَمَهُ اللهُ تَعَالَى بِالنُّبُوَّةِ
وَاجْتَبَاهْ **C**ثُمَّ عَادَ إِلَى مَكَّةَ فَرَأَتْهُ خَدِيْجَةُ مُقْبِلاً وَهِيَ بَيْنَ نِسْوَةٍ فِيْ عُلِّيَّةْ
**C**وَمَلَكَانِ عَلَى رَأْسِهِ الشَّرِيْفِ مِنْ وَهَجِ الشَّمْسِ قَدْ أَظَلاَّهْ **C**وَأَخْبَرَهَا مَيْسَرَةُ
بِأَنَّهُ رَأَى ذٰلِكَ فِي السَّفَرِ كُلِّهِ وَبِمَا قَالَ لَهُ الرَّاهِبُ وَأَوْدَعَهُ لَدَيْهِ مِنَ الْوَصِيَّةْ
**C**وَضَاعَفَ اللهُ فِيْ تِلْكَ التِّجَارَةِ رِبْحَهَا وَنَمَّاهْ **C**فَبَانَ لِخَدِيْجَةَ بِمَا رَأَتْ وَمَا
سَمِعَتْ أَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ تَعَالَى إِلَى الْبَرِيَّةْ **C**اَلَّذِيْ خَصَّهُ اللهُ تَعَالَى بِقُرْبِهِ
وَاصْطَفَاهْ **C**فَخَطَبَتْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهَا الزَّكِيَّةْ **C**لِتَشُمَّ مِنَ
اْلإِيْمَانِ بِهِ طِيْبَ رَيَّاهْ **C**فَأَخْبَرَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْمَامَهُ بِمَا دَعَتْهُ إِلَيْهِ
هٰذِهِ الْبَرَّةُ التَّقِيَّةْ **C**فَرَغِبُوْا فِيْهَا لِفَضْلٍ وَدِيْنٍ وَجَمَالٍ وَمَالٍ وَحَسَبٍ وَنَسَبٍ كُلٌّ مِنَ
الْقَوْمِ يَهْوَاهْ **C**وَخَطَبَ أَبُوْ طَالِبٍ وَأَثْنَى عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَنْ حَمِدَ
اللهُ بِمَحَامِدَ سَنِيَّةْ **C**وَقَالَ: هُوَ وَاللهِ بَعْدُ لَهُ نَبَأٌ عَظِيْمٌ يُحْمَدُ فِيْهِ مَسْرَاهْ
**C**فَزَوَّجَهَا مِنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُوْهَا وَقِيْلَ عَمُّهَا وَقِيْلَ أَخُوْهَا لِسَابِقِ
سَعَادَتِهَا اْلأَزَلِيَّةْ **C**وَأَوْلَدَهَا كُلَّ أَوْلاَدِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ الَّذِيْ بِاسْمِ
الْخَلِيْلِ سَمَّاهْ **C***

dfdfdfdfdfdfdf**

Setelah beliau menginjak usia dua puluh lima tahun, beliau pergi ke
Bushro dengan tujuan mendagangkan dagangan Kodijah . Beliau di bantu
oleh budaknya yang bernama Maisaroh. Di perjalanan, beliau singgah dan
istiahat di bawah pohon yang ada di dekat gereja pendeta yang berama
Nasthuro. Lalu pendeta tahu bahwa beliau adalah nabi, karena dedaunan
yang sangat lebat itu condong meaunginya. Ia berkata, “Tidak ada yang
istirahat di bawa pohon ini selain Nabi yang memiliki sifat- sifat yang
bersih dan Rosul yang di pilih dengan pemberian-Nya. Kemudian ia ingin
mengecek tanda- tandanya yang lebih samar dan bertanya kepada Maysaroh,
“Apakah di kedua matanya ada kemerah- merahan ?.” Maysaroh menjawab,
“Ya.” Maka sungguh tepatlah apa yang ia sangka semula. Dn ia berpesan
kepada Maysaroh, “Jangan sampai kau meninggalkan orang ini !. Kau harus
menyertainya dengan sungguh dan hati yang lapang !, karena orang ini
termasuk di antara manusia yang di pilih dan di mulyakan oleh Alloh SWT
dengan kenabian !.”

Kemudian beliau kembali ke Makkah dan di jemput oleh ibu Khoijah bersama
para wanita dari atas panggung, saat itu beliau di kawal oleh dua
Malaikat yang menaungi dari atasnya dari terik matahari.  Hal semisal
ini oleh Maisaroh di lihat selama di perjalanan, lalu olehnya ia
ceritakan pada S. Khodijah. Begitu juga apa saja yang di ucapkan dan di
pesankan oleh pendeta, semuanya ia ceritakan. Dan di dalam perdagangan
ini Alloh SWT memberikan laba yang melimpah pada S. Khodijah. Ahirnya,
Khodijah tahu bahwa beliau adalah manusia pilihan Alloh SWT yang di utus
pada semua mahluk. Ahirnya beliau memintanya agar Nabi SAW sudi
menikahinya, agar bisa mencium bau segar keimanan padanya. Lalu Nabi SAW
menceritakan lamaran ini kepada paman- pamannya, ahirnya semuanya setuju
karena Khodijah memiliki kelebihan, agama, rupa, nasab, dan harta, yang
mana sifat- sifat ini di gandrungi oleh setiap orang. Kemudian, Abi
Tholib berpidato dengan memuji Alloh SWT dan memuji pada Nabi SAW. Di
dalam pidatonya ia berkata, “Ia ini, demi Alloh, memiliki kisah yang
agung yang akan menjadikan-nya mendapat sanjungan.” Ahirnya, S. Khodijah
di nikahkan dengan di walikan oleh bapaknya atau pamannya atau
saudaranya ( beberapa pendapat ), karena suratan yang menaqdirnya
menjadi orang yang beruntung. Dan dari pernikan ini terlahir semua
putra- putra Nabi SAW, kecuali putra yang beliau beri nama Ibrohim.

 

!***عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم *!**

! *اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ *!

**

DFDFDFDFDFDFDF**

*وَلَمَّا بَلَغَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسًا وَثَلاَثِيْنَ سَنَةً بَنَتْ قُرَيْشُ _نِ الْكَعْبَةَ
لاِنْصِدَاعِهَا بِالسُّيُوْلِ اْلأَطْبَحِيَّةْ **C**وَتَنَازَعُوْا فِيْ رَفْعِ الْحَجَرِ اْلأَسْوَدِ فَكُلٌّ أَرَادَ
رَفْعَهُ وَرَجَاهْ **C**وَعَظُمَ الْقِيْلُ وَالْقَالُ وَتَحَالَفُوْا عَلَى الْقِتَالِ وَقَوِيَتِ الْعُصْبِيَّةْ
**C**ثُمَّ تَدَاعَوْا إِلَى اْلإِنْصَافِ وَفَوَّضُوْا اْلأَمْرَ إِلَى ذِيْ رَأْيٍ صَائِبٍ وَأَنَاهْ **C**فَحَكَمَ
بِتَحْكِيْمِ أَوَّلِ دَاخِلٍ مِنْ بَابِ السَّدَنَةِ الشَّيْبِيَّةْ **C**فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَوَّلَ دَاخِلٍ فَقَالُوْا: هٰذَا اْلأَمِيْنُ وَكُلُّنَا نَقْبَلُهُ وَنَرْضَاهْ **C**فَأَخْبَرُوْهُ بِأَنَّهُمْ رَضُوْهُ
أَنْ يَكُوْنَ صَاحِبَ الْحُكْمِ فِيْ هٰذَا الْمُلِمِّ وَوَلِيَّهْ **C**فَوَضَعَ الْحَجَرَ فِيْ ثَوْبٍ ثُمَّ أَمَرَ أَنْ
تَرْفَعَهُ الْقَبَائِلُ جَمِيْعًا إِلَى مُرْتَقَاهْ **C**فَرَفَعُوْهُ إِلَى مَقَرِّهِ مِنْ رُكْنٍ هَاتِيْكَ الْبَنِيَّةْ
**C**وَوَضَعَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ الشَّرِيْفَةِ فِيْ مَوْضِعِهِ اْلأنَ وَبَنَاهْ **C***

dfdfdfdfdfdfdf**

Ketika Nabi SAW berada di usianya yang yang tigapuluh lima, orang- orang
Quroisy merenovasi Ka’bah karena keadaannya yang pecah oleh sebab di
terpa banjir Makkah. Saat itu mereka berebut mengembalikan Hajar Aswad
ke tempatnya semula, setiap orang dari mereka berkeinginan melakukannya.
Perang mulut pun teradi, dan akan mereka sudah mengadakan sumpah untuk
berperang fisik dan terjadi fanatisme yang berlebihan. Namun mereka
akhirnya sadar dan menyerahkan semua ini kepada orang yang yang memiliki
pemikiran yang baik dan ketenangan. Lalu orang ini menyerahkan keputusan
kepada orang yang pertama kali masuk lewat pitu /Sadanah Assyaibiyyah. /
Dan ternyata Nabi SAW adalah orang yang masuk ke situ lewat pintu
tersebut. Maka semuanya berguaman, “Nah, ini Al-amin ( orang yang di
percaya ) !. Kita semua rela dan menerimanya.”  Lalu mereka menceritakan
kerelaan semua pihak di dalam menyelesaikan masalah ini kepada Nabi SAW.
 Kemudian beliau meletakkan Hajar Aswad tersebut di atas sebuah kain dan
memerintahkan kepada semua suku agar mengangkatnya ke tempatnya semula.
 Ahirnya semuanya turut mengangkatnya di tempatnya yang berdekatan
dengan tiang bangunan itu, dan Nabi SAW yang meletakkannya dengan tangan
beliau yang mulia di tempatnya yang sekarang dan membangunnya kembali.

 

!***عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم *!**

! *اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ *!

**

DFDFDFDFDFDFDF**

*وَلَمَّا كَمُلَ لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعُوْنَ سَنَةً عَلَى أَوْفَقِ اْلأَقْوَالِ لِذَوِي
الْعَالِمِيَّةْ **C**بَعَثَهُ اللهُ تَعَالَى لِلْعَالَمِيْنَ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا فَعَمَّهُمْ بِرُحْمَاهْ
**C**وَبُدِئَ إِلَى تَمَامِ سِتَّةِ أَشْهُرٍ بِالرُّؤْيَا الصَّادِقَةِ الْجَلِيَّةْ **C**فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا
إِلاَّ جَائَتْ مِثْلَ فَلَقِ  صُبْحٍ أَضَاءَ سَنَاهْ **C**وَإِنَّمَا ابْتُدِئَ بِالرُّؤْيَا تَمْرِيْنًا لِلْقُوَّةِ
الْبَشَرِيَّةْ **C**لِئَلاَّ يَفْجَأَهُ الْمَلَكُ بِصَرِيْحِ النُّبُوَّةِ فَلاَ تَقْوَاهُ قُوَاهْ **C**وَحُبِّبَ إِلَيْهِ
الْخَلاَءُ فَكَانَ يَتَعَبَّدُ بِحِرَاءَ اللَّيَالِيَ الْعَدَدِيَّةْ **C**إِلَى أَنْ أَتَاهُ فِيْهِ صَرِيْحُ الْحَقِّ
وَوَافَاهْ **C**وَذٰلِكَ فِيْ يَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ لِسَبْعَ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ شَهْرِ اللَّيْلَةِ الْقَدْرِيَّةْ
**C**وَثَمَّ أَقْوَالٌ لِسَبْعٍ أَوْ ِلأَرْبَعٍ وَعِشْرِيْنَ مِنْهُ أَوْ لِثَمَانٍ مِنْ شَهْرِ مَوْلِدِهِ الَّذِيْ بَدَا
فِيْهِ بَدْرُ مُحَيَّاهْ **C**فَقَالَ لَهُ: اقْرَأْ، فَقَالَ: ‹‹ مَا أَنَا بِقَارِئٍ ››  فَغَطَّهُ غَطَّةً
قَوِيَّةْ **C**ثُمَّ قَالَ لَهُ: اقْرَأْ، فَقَالَ: ‹‹ مَا أَنَا بِقَارِئٍ ››، فَغَطَّهُ ثَانِيَةً حَتَّى بَلَغَ
مِنْهُ الْجَهْدَ وَغَطَّاهْ **C**ثُمَّ قَالَ لَهُ: اقْرَأْ، فَقَالَ: ‹‹ مَا أَنَا بِقَارِئٍ ››، فَغَطَّهُ
ثَالِثَةً لِيَتَوَجَّهَ إِلَى مَا سَيُلْقَى إِلَيْهِ بِجَمْعِيَّةْ **C**وَيُقَابِلَهُ بِجِدٍّ وَاجْتِهَادٍ وَيَتَلَقَّاهْ
**C**ثُمَّ فَتَرَ الْوَحْيُ ثَلاَثَ سِنِيْنَ أَوْ ثَلاَثِيْنَ شَهْرًا لِيَشْتَاقَ إِلَى انْتِشَاقِ هَاتِيْكَ
النَّفَحَاتِ الشَّذِيَّةْ **C**ثُمَّ أُنْزِلَتْ عَلَيْهِ**: { يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ } **فَجَاءَهُ جِبْرِيْلُ بِهَا
وَنَادَاهْ **C**فَكَانَ لِنُبُوَّتِهِ فِيْ تَقَدُّمِ { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ } شَاهِدٌ عَلَى أَنَّ لَهَا
السَّابِقِيَّةْ **C**وَالتَّقَدُّمُ عَلَى رِسَالَتِهِ بِالْبِشَارَةِ وَالنِّذَارَةِ لِمَنْ دَعَاهْ **C***

dfdfdfdfdfdfdf**

Setelah beliau menginjak usianya yang ke empat puluh, menurut qoul yang
paling sohih, beliau di utus oleh Alloh SWT ke seluruh jagad sebagai
orang yang bertugas memberi kabar gembira dan pemberi peringatan,
sehingga semuanya mendapatkan hidangan rohmah. Pertama- tama beliau di
beri mimpi- mimpi yang benar dan jelas. Setiap kali beliau bermimpi,
maka selalu membawa sinar cerah sebagaimana saat fajar menyingsing.
Risalah ini memang di mulai dengan mimpi adalah agar menjadi pelatihan
terhadap kekuatan manusiawi, agar tidak di kejutkan dengan Malaikat yang
tampak jelas dengan membawa kenabian hingga menjadi tidak kuat.  Setelah
itu, beliau senang menyendiri dan beribadat di goa Hira selama beberapa
malam hingga ahirnya beliau mendapatkan dan di datangi oleh kebenaran
yang jelas. Peristiwa itu terjadi di hari Senin tanggal tujuh belas dari
bulan yang di dalamnya terdapat Lailatul Qodar. Namun di balik qoul ini,
ada yang mengatakan bahwa peristiwa ini terjadi pada tanggal “dua puluh
empat” atau “dua puluh tujuh” atau “dua puluh delapan” dari bulan Robi’
Awwal.

Malaikat ( Jibril ) berkata pada Nabi SAW, ‘Iqro” ( Bacalah ! ). Lalu
beliau menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca’. Lalu Malaikat memeluknya
dengan kuat. Kemudian Malaikat berkata lagi, “Iqro’ !. Maka Nabi- pun
menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”  Maka Malaikat memeluknya untuk
kedua kalinya hingga beliau mendapat kepayahan.  Kemudian Malikat
berkata lagi, “Iqro’ !.” Dan Nabi SAW menjawab, “Aku tidak bisa
menjawab.”  Ahirnya Malaikat memeluknya untuk yang ketiga agar supaya
beliau berkonsentrasi dengan penuh kepada apa yang bakal di wahyukan
padanya dan agar menerimanya dengan sungguh- sungguh.

Kemudian wahyu mengalami transisi selama tiga tahun atau tiga puluh
bulan, agar supaya ada kerinduan untuk mencium bau segar yang sangat
beraroma. Kemudian di turunkan wahyu “Yaa ayyuhal muddatssir” yang di
bawa Jibril dan langsung di panggilkan pada Nabi SAW.  Di awalinya wahyu
dengan Ayat “Iqro'” menjadi bukti bahwa Nubuwwah beliau mendahului
Risalah-nya yang berisi kabar gembira dan peringatan kepada orang yang
di da’wahi.

 

!***عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم *!**

! *اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ *!

*وَأَوَّلُ مَنْ أمَنَ بِهِ مِنَ الرِّجَالِ أَبُوْ بَكْرٍ صَاحِبُ الْغَارِ وَالصِّدِّيْقِيَّةْ **C**وَمِنَ الصِّبْيَانِ
عَلِيُّ وَمِنَ النِّسَاءِ خَدِيْجَةُ الَّتِيْ ثَبَّتَ اللهُ بِهَا قَلْبَهُ وَوَقَاهْ **C**وَمِنَ الْمَوَالِيْ زَيْدُ
بْنُ حَارِثَةَ وَمِنَ اْلأَرِقَّاءِ بِلاَلُ _نِ الَّذِيْ عَذَّبَهُ فِي اللهِ أُمَيَّةْ **C**وَأَوْلاَهُ مَوْلاَهُ
أَبُوْ بَكْرٍ مِنَ الْعِتْقِ مَا أَوْلاَهْ **C**ثُمَّ أَسْلَمَ عُثْمَانُ وَسَعْدٌ وَسَعِيْدٌ وَطَلْحَةُ وَابْنُ عَوْفٍ
وَابْنُ عَمَّتِهِ صَفِيَّةْ **C**وَغَيْرُهُمْ مِمَّنْ أَنْهَلَهُ الصِّدِّيْقُ رَحِيْقَ التَّصْدِيْقِ وَسَقَاهْ **C**وَمَا
زَالَتْ عِبَادَتُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ مَخْفِيَّةْ **C**حَتَّى أُنْزِلَتْ عَلَيْهِ *﴿
*÷**í**y**‰**ô**¹**$**$**s**ù****$**y**J**Î**/****ã**�**t**B**÷**s**è**?* ﴾*فَجَهَرَ
بِدُعَاءِ الْخَلْقِ إِلَى اللهْ **C**وَلَمْ يَبْعُدْ مِنْهُ قَوْمُهُ حَتَّى عَابَ أَلِهَتَهُمْ وَأَمَرَ بِرَفْضِ مَا
سِوَى الْوَحْدَانِيَّةْ **C**فَتَجَرَّؤُوْا عَلَى مُبَارَزَتِهِ بِالْعَدَاوَةِ وَأَذَاهْ **C**وَاشْتَدَّ عَلَى
الْمُسْلِمِيْنَ الْبَلاَءُ فَهَاجَرُوْا فِيْ سَنَةِ خَمْسٍ إِلَى النَّاحِيَةِ النَّجَاشِيَّةْ **C**وَحَدَبَ عَلَيْهِ
عَمُّهُ أَبُوْ طَالِبٍ فَهَابَهُ كُلٌّ مِنَ الْقَوْمِ وَتَحَامَاهْ **C**وَفُرِضَ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قِيَامُ بَعْضٍ مِنَ السَّاعَاتِ اللَّيْلِيَّةْ **C**ثُمَّ نُسِخَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى فَاقْرَؤُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ
وَأَقِيْمُوا الصَّلاَةْ **C**وَفُرِضَ عَلَيْهِ رَكْعَتَانِ بِالْغَدَاةِ وَرَكْعَتَبْنِ بِالْعَشِيَّةْ **C**ثُمَّ نُسِخَ
بِإِيْجَابِ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ فِيْ لَيْلَةِ مَسْرَاهْ **C**وَمَاتَ أَبُوْ طَالِبٍ فِيْ نِصْفِ شَوَّالٍ مِنْ
عَاشِرِ الْبِعْثَةِ وَعَظُمَتْ بِمَوْتِهِ الرَّزِيَّةْ **C**وَتَلَتْهُ خَدِيْجَةُ بَعْدَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَشَدَّ
الْبَلاَءُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ عُرَاهْ **C**وَأَوْقَعَتْ قُرَيْشٌ بِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ أَذِيَّةْ
**C**وَأَمَّ الطَّائِفَ يَدْعُوْ ثَقِيْفًا فَلَمْ يُحْسِنُوْا بِاْلإِجَابَةِ قِرَاهْ **C**وَأَغْرَوْا بِهِ
السُّفَهَاءَ وَالْعَبِيْدَ فَسَبُّوْهُ بِأَلْسِنَةٍ بَذِيَّةْ **C**فَرَمَوْهُ بِالْحِجَارَةِ حَتَّى خُضِّبَتْ بِالدِّمَاءِ
نَعْلاَهْ **C**ثُمَّ عَادَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى مَكَّةَ حَزِيْنًا فَسَأَلَهُ مَلَكُ الْجِبَالِ فِي
إِهْلاَكِ أَهْلِهَا ذَوِي الْعُصْبِيَّةْ **C**فَقَالَ: ‹‹ إِنِّيْ أَرْجُوْ أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ
مَنْ يَتَوَّلاَّهْ ›› **C***

dfdfdfdfdfdfdf**

Orang yang pertama kali beriman pada Nabi SAW dari laki- laki dewasa
adalah Abu Bakr yang terkenal dengan sebutan Siddiq dan goa. Dan yang
dari kalangan anak- anak adalah Aly bin Abi Tholib, dan dari wanita
adalah Khodijah, orang yang hatinya di kuatkan oleh Alloh SWT dan di
jaganya.  Sedangkan dari kalangan mantan budak adalah Zaid bin Haritsah,
dan dari budak adalah Bilal, orang yang pernah di siksa oleh majikannya
yaitu Umayyah demi mempertahankan agama Alloh SWT dan kemudian di tebus
oleh Abu Bakr lalu di merdekakan olehnya. Kemudian menyusul masuk Islam
Utsman, Sa’d, Sa’id, Tholhah, Abdurrohman, saudara sepupunya yaitu
Sofiyyah, dan lain- lain, yaitu orang- orang yang di beri minum keimanan
oleh Abi Bakr ( ya’ni  di da’wahi oeh beliau ).

Saat itu beliau dan para sahabat terus menerus melakukan ibadah dengan
cara sembunyi- sembunyi, sampai beliau di beri Ayat yang memerintahkan
agar terbuka di dalam berda’wah ( Al-Hijr : 94 ), dan ahirnya beliau
terbuka di dalam berda’wah. Tidak lama kemudian beliau mencela barang-
barang yang mereka anggap tuhan dan mengajak meninggalkan segala bentuk
kemusyrikan. Dan ini menyebabkan mereka berani melawan dan memusuhinya,
sampai- sampai kaum Muslim mendapat derita yang amat sangat dari
permusuhan mereka, dan ahirnya mereka berhijrah ke daerah yang di pimpin
oleh raja Najasyi pada tahun ke lima dari kenabian. Sedangkan Nabi SAW
di bela oleh pamannya, Abi Tholib, maka semuanya segan dan takut.

Di saat itu beliau di wajibkan melakukan solat sebentar di waktu malam,
dan ini berjalan terus hingga di revisi dengan Ayat Al-Muzzammil : 20.
Kemudian beliau di wajibkan melakukan solat dua roka’at di pagi hari dan
dua roka’at di sore hari. Sampai ahirnya kewajiban ini di rubah dengan
di wajibkannya solat lima waktu di beliau di panggil isro’. Kemudian di
saat pertengahan bulan Syawwal pada tahun ke sepuluh dari kenabian, Abu
Tholib meninggal. Kemudian S. Khodijah ikut menyusul kepergian Abi
Tholib selang tiga hari. Maka kematian kedua tokoh ini menyebabkan kaum
Muslimin tambah menderita dan Nabi SAW mendapat perlakuan yang sangat
buruk dari kaum Quroisy.

Kemudian pada suatu saat, Nabi SAW berangkat menuju Thoif dengan tujuan
memberi da’wah kepada suku Tsaqif, namun mereka tidak mengindahkan
ajakan beliau dan bahkan mereka menyuruh para budak dan anak- anak kecil
agar mencacinya dan melemparkan batu padanya sampai sandal beliau
terkena darah dari kakinya. Kemudian Nabi SAW kembali ke Makkah dengan
di liputi kesusahan, lalu beliau di temui Malaikat yang mengurusi gunung
dan menawarkan padanya untuk menghancurkan mereka yang memilki fanatisme
jahiliyyah. Namun beliau menjawabnya, “Aku berharap Alloh akan
mengeluarkan dari mereka anak- anak yang di kasihi oleh-Nya.”

 

!***عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَ تَسْلِيْم *!**

! *اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ *!

**

*ثم أسري بروحه و جسده يقظة من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى و رحابه
القدسية **C**و عرج به إلى السموات فرأى أدم في الأولى و قد جلله الوقار و
علاه **C**و رأى في الثانية عيسى ابن مريم البتول البرة التقية **C**و ابن
خالته يحيى الذي أوتي الحكم في حال صباه **C**و رأى في الثالثة يوسف بصورته
الجمالية **C**و في الرابعة إدريس الذي رفع الله مكانه و أعلاه **C**و في
الخامسة هارون المحبب في الأمة الإسرائيلية **C**و في السادسة موسى الذي
كلمه الله تعالى و ناجاه **C**و في السابعة إبراهيم الذي جاء ربه بسلامب
القلب و حسن الطوية **C**و حفظه من نار نمرود و عافاه **C**ثم رفع إلى سدرة
المنتهى إلى أن سمع صريف الأقلام بالأمور المقضية **C**إلى مقام المكافحة
الذي قربه الله فيه و أدناه **C**و أماط له حجب الأنوار الجلالية **C**و
أراه بعيني رأسه من حضرة الربوبية ما أراه **C**و بسط له بسط الإدلال في
المجال الذاتية **C**و فرض عليه و على أمته خمسين صلاة ثم انهل سحاب الفضل
فردت إلى خمس عملية **C**و لها أجر الخمسين كما شاءه في الأزل و قضاه
**C**ثم عاد في ليلته فصدقه الصديق بمسراه **C**و كل ذي عقل و روية **C**و
كذبته قريش و ارتد من أضله الشيطان و أغواه **C***

*ssssssssssssssssssssssssss*

**Kemudian Nabi SAW di panggil berisro’ dengan ruh dan jasad beliau
dalam keadaan terjaga dari Almasjidil Harom ke Almasjidil Aqsho dan
halamannya yang suci. Dan beliau juga di naikkan ke langit, dan di
langit yang pertama beliau melihat Nabi Nabi Adam dalam keadaan yang
sangat agung. Di lagit yang kedua beliau melihat Nabi ‘Isa bin Maryam,
seorang perawan yang baik dan bertaqwa, dan di sana juga bertemu dengan
saudara sepupu ‘Isa, yaitu Nabi Yahya, nabi yang di angkat menjadi nabi
sejak saat masih kecil. Di langit ketiga, beliau melihat Nabi Yusuf
dengan keadaannya yang sangat tampan. Di langit keempat beliau melihat
Nabi Idris yang di derajat dan tempatnya di tinggikan oleh Alloh SWT.
Beliau melihat Nabi Harun yang di sukai oleh Bani Isroil di langit yang
kelima. Dan di langit yang keenam beliau melihat Nabi Musa yang pernah
menerima firman Alloh SWT secara langsung. Di langit yang ke tujuh
beliau melihat Nabi Ibrohim yang menghadap Tuhan-nya dengan hati yang
semat dan baik dan pernah di bakar oleh raja Numrudz namun di selamatkan
oleh Alloh dari rekayasa raja.

Kemudian beliau di angkat sampai ke Sidrotil Muntaha hingga beliau bisa
mendengar suara Qolam yang menulis segala sesuatu yang bakal terjadi,
dan bahkan sampai ke maqom Mukafahah, sebuah tempat yang dekat pada
Alloh Ta’ala. Saat itu Alloh Ta’ala menghilangkan tabir- tabir Nur
keagungan, sampai beliau di perlihatkan Dzat Alloh Ta’ala dengan dua
mata kepala beliau. Di situ juga di bentangkan maqom Idlal dengan Tuhan.
Dan di wajibkan atas beliau dan ummmatnya lima puluh kali solat sehari
semalam. Namun tercurahlah awan anugrah sampai di kurangi hingga hanya
di wajibkan lima kali yang memilki nilai atau pahala sama dengan lima
puluh kali, sebagaimana ketentuan Azali-Nya.

Kemudian beliau kembali pada malam itu juga, dan dari sekembalinya ada
yang mempercayai isro’ ini, seperti Abi Bakr R.A dan orang- orang yang
memiliki pemikiran yang benar. Namun rata- rata orang- orang Quroisy
tidak percaya padanya dan bahkan ada pula orang menjadi murtad karena
tertipu dengan godaan setan.

 

*عطر اللهم قبره الكريم * بعرف شذي من صلاة وتسليم***

*اللهم صل وسلم وبارك عليه*

*ثم عرض نفسه علي القبائل بأنه رسول الله في الايم الموسمية * فأمن به ستة
من الانصار اختصهم الله برضاه * وحج منهم في القابل اثنا عشر رجلا وبايعوه
بيعة حقية * ثم انصرفوا فظهر الاسلام بالمدينة فكانت معقله ومأواه * وقدم
عليه في العام الثالث سبعون أو وثلاثة او خمسة وامرأتان من القبائل الاوسية
والخزرجية * فبايعوه وأمر عليهم اثني عشر نقيبا جحاجحة سراه * فهاجر إليهم
من مكة ذو الملة الاسلامية * وفارقوا الاوطان رغبة في ما أعد لمن هجر الكفر
و نأه * وخافت قريش ان يلحق صلي الله عليه وسلم به علي الفورية * فأتمروا
بقتله فحفظه الله تعالي من كيدهم ونجاه * وأذن له صلي الله عليه وسلم في
الهجرة فركبه المشركون ليوردوه بزعمهم حياض المنية * فخرج عليهم ونثر علي
رؤسهم التراب وحثاه * وأم غار ثور وفاز الصديق فيه بالمعية * وأقام فيه
ثلاثا تحمي الحمائم والعناكب حماه * ثم خرج منه ليلة الاثنين وهو صلي الله
عليه وسلم علي خير مطية * وتعرض له سراقة فابتهل فيه الي الله ودعاه *
فساخت قوائم يعبوبه في الارض اللبة القوية * وسأله الامان فمنحه اياه ****

Kemudian beiau menunjukkan kepada beberapa suku di saat ada acara
peribadatan haji bahwa dirinya adalah utusan Alloh Ta’ala. Lalu dari
kelompok Anshor ada enam orang yang beriman padanya, yaitu orang- orang
yang mendapatkan kekhususan ridlo dari-Nya. Dan di tahun kemudian dari
kelompok Anshor juga ada yang pergi haji dan kemudian membai’atnya (
masuk Islam ) dengan sungguh- sungguh. Maka dari kepulangan mereka,
Islam mulai ramai di Madinah hingga kota ini menjadi tempat singgah
Islam. Kemudian pada tahun ketiga datang juga tujuh puluh tiga ( ada
yang mengatakan tujuh puluh lima orang ) dan dua wanita dari suku Aus
dan Khozroj. Dan dari jumlah tersebut, semuanya membai’atnya dan beliau
memberikan mandat kepada dua belas orang yang *memiliki jiwa ketokohan
*untuk memimpin mereka. Kemudian mereka inilah yang menjadi tempat
orang- orang Muslim Makkah yang berhijrah demi meraih pahala yang di
siapkan bagi orang- orang yang sudi meninggalkan kekufuran.

Lalu orang- orang Quroisy merasa hawatir jika Nabi SAW menyusul mereka
dengan cepat. Maka mereka berembug untuk membunuhnya, namun Alloh Ta’ala
tetap menjaganya dari tipu daya mereka. Dan beliau mendapat ijin untuk
berhijrah, maka mereka pun menjeratnya dan ingin menjatuhkannya di
lembah kematian. Lalu beliau keluar menghadapi mereka dan menebarkan
debu di ats kepala mereka, dan beliau beristirahat di goa Tsaur dengan
di sertai sahabat Abu Bakr R.A dan hal ini merupakan suatu keberuntungan
baginya. Di dalam goa tersebut beliau berdiam selama tiga hari dengan di
jaga oleh burung merpati dan laba- laba pada daerah sekitar goa.
Kemudian beliau keluar dari goa pada malam Senin dengan mengendarai
kendaraan yang sangat bagus. Dan di tengah perjalanan, beliau di kejar
oleh Suroqoh, maka dengan hati yang sangat tulus dan rendah beliau
berdoa pada Alloh Ta’ala. Lalu kaki kuda yang ia tumpangi masuk ke dalam
tanah yang keras, tapi setelah ia meminta keamanan dari beliau, beliau
tetap memberikan keamanan.

 

*عطر اللهم قبره الكريم * بعرف شذي من صلاة وتسليم*

*اللهم صل وسلم وبارك عليه*

*ومر صلي الله عليه وسلم بقديد علي أم معبد الخزاعية * وأراد ابتياع لحم او
لبن منها فلم يكن خباؤها لشيئ من ذلك قد حواه * فنظر إلي شاة في لبيت قد
خلفها الجهد عن الرعية * فاستأذنها في حلبها فأذنت وقالت لو كان بها حلب
لأصبناه * فمسح الضرع منها ودعا الله مولاه ووليه * فدرت فحلب وسقي كلا من
القوم وأرواه * ثم حلب وملأ الإناء وغادره لديها أية جلية * فجاء أبو معبد
ورأي اللبن فذهب به العجب إلي أقصاه * وقال أني لك هذا ولا حلوب باليت تبض
بقطرة لبنية * فقالت مر بنا رجل مبارك كذا وكذا جثمانه ومعناه * فقال هذا
صاحب قريش وأقسم بكل ألية * بأنه لو رأه لآمن به واتبعه وداناه * وقدم صلي
الله عليه وسلم المدينة يوم الإثنين ثاني عشر شهر ربيع الأول وأشرقت به
أرجاؤها الزكية * وتلقاه الأنصار ونزل بقباء وأسس مسجدها علي تقواه **

Di perjalanan hijrah, beliau melewati daerah Qudaid dan singgah di rumah
Ummi Ma’bad Al-khuza’iyyah. Di situ beliau hendak membeli daging atau
susu, namun di dalam bejana- bejana yang di miliki Ummi Ma’bad sama
sekali tidak ada isinya. Lalu beliau melihat kambing yang ada di rumah
yang sedang dalam keadaan sangat lemah dan tidak bisa di gembala. Lalu
beliau minta ijin padanya untuk memperahnya dan tuah rumah pun
mengijinkan seraya berkata, “Seandainya ada air susunya, sudah barang
tentu kami bisa mendapatkannya.” Kemudian Nabi memegang susu kambing
tersebut sambil berdoa pada Alloh, Tuhan yang mengasihi dan menolongnya.
Maka kontan air susu kambing menjadi deras dan bahkan bisa mencukupi
rombongan yang menyertai Nabi. Nabi Saw juga mengulangi memperahnya dan
meletakkan di bejana yang ada di situ dan meninggalkannya sebagai tanda
yang sangat jelas.

Kemudian setelah itu, sang suami yaitu Abu Ma’bad datang dan melihat air
susu yang melimpah hingga ia di buatnya sangat heran. Ia bertanya,
“Bagaimana ini, padahal di dalam rumah tidak ada kambing yang bisa
mengeluarkan air susu setetespun ?.” Sang istri menjawab, “Tadi ada
laki- laki yang penuh berkah bercirikan begini dan begitu mampir ke
sini.” Sang suami menambahkan, “O, itu seseorang dari Quroisy !!.”
Bahkan ia bersumpah, “Seandainya ia melihatnya, niscaya ia akan mendekat
padanya, mengikuti, dan beriman padanya.”

Kemudian Nabi SAW sampai di Madinah pada hari Senin tanggal dua belas
Robi’ul Awwal. Dan sebab kedatangan beliau ini,kota Madinah menjadi
cerah dan bersih. Dan saat beliau datang, beliau di jemput para sahabat
Ansor, dan beliau singgah di Qoba’ dan mendirikan masjid di sana dengan
pondasi taqwa.

 

*عطر اللهم قبره الكريم * بعرف شذي من صلاة وتسليم*

*اللهم صل وسلم وبارك عليه*

*وكان صلي الله عليه وسلم أكمل الناس خلقا وخلقا ذا ذات وصفات سنية * مربوع
القامة أبيض اللون مشربا بحمرة واسع العينين أكحلهما أهدب الأشفار قد منح
الزجج حاجباه * مفلج الاسنان واسع الفم حسنه واسع الجبين ذا جبهة هلالية *
سهل الخدين يري في أنفه بعض احديداب حسن العرنين اقناه * بعيد ما بين
المنكبين سبط الكفين ضخم الكراديس قليل لحم العقب كث اللحية عظيم الرأس
شعره الي الشحمة الاذنية * وبين كتفيه خاتم النبوة قد عمه النور وعلاه *
وعرقه كاللؤلؤ وعرفه اطيب من النفحات المسكية * ويتكفؤ في مشيته كأنما ينحط
من صبب ارتقاه * وكان يصافح المصافح بيده الشريفة فيجد منها سائر اليوم
رائحة عبهرية * ويضعها علي رأس الصبي فيعرف مسه من بين الصبية ويدراه *
يتلألؤ وجهه الشريف تلألؤ القمر في الليلة البدرية * يقول ناعته لم أر قبله
ولا بعده بشر يراه **

Adalah Nabi SAW orang yang paling sempurna tubuh dan budinya, berpribadi
dan budi yang luhur. Beliau sedang ketinggian badannya, putih kemerah-
merahan, luas dan bercelak kedua matanya, tebal serta melengkung kedua
alisnya, runcing gigi- giginya, luas dan indah mulutnya, luas keningnya,
dengan dahi yang bersinar, rata kedua pipinya, pada hidungnya ada
*sedikit, *berjauhan jarak kedua punggungnya, luas kedua tapak tanganya,
/sedikit /, sedikit daging /tungkanya, /tebal jenggotnya, dengan rambut
yang menggapai daun telinga. Di antara kedua punggungnya ada cap
kenabian dengan sinar yang menyelubunginya. Keringat beliau seperti
kilauan mutiara, keringatnya berbau harum melebihi keharuman misik.
Ketika /berjalan/ seakan turun dari dataran tinggi. Jika ada orang yang
bersalaman dengan tangan beliau yang mulya, maka ia akan mendapatkan
keharuman tangannya berhari- hari. Dan jika seandainya beliau memegang
salah kepala salah satu anak kecil, maka anak tersebut akan di ketahui
bahwa anak tersebut pernah di pegang oleh Nabi SAW dari antara sekian
banyak anak karena baunya yang wangi. Wajah beliau berkilau bagai bulan
purnama, sampai orang yang pernah melihatnya akan menerangkan sifat-
sifatnya dengan uapannya, “Aku tidak pernah melihat sebelumnya seorang
pun dan tidak akan bakal ada orang yang melihat orang yang seperti beliau.

 

*عَطِّرِ اللَّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْمَ * بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلاَةٍ وَتَسْلِيْمٍ*

*اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ*

*وكان صلي الله عليه وسلم شديد الحياء والتواضع يخصف نعله ويرقع ثوبه ويحلب
شاته ويسير في خدمة أهله بسيرة سرية * ويحب الفقراء والمساكين ويجلس معهم
ويعود مرضاهم ويشيع جنائزهم ولا يحقر فقيرا أدقعه الفقر وأشواه * ويقبل
المعذرة ولايقابل أحدا بما يكره ويمشي مع الارملة وذوي العبودية * ولا يهاب
الملوك ويغضب لله تعالي ويرضي لرضاه * ويمشي خلف أصحابه ويقول خلوا ظهري
للملائكة الروحانية * ويركب البعير والفرس والبغلة وحمارا بعض الملوك إليه
أهداه * ويعصب علي بطنه الحجر من الجوع وقد أوتي مفاتيح الخزائن الأرضية *
وراودته الجبال بأن تكون له ذهبا فأباه * وكان صلي الله عليه وسلم يقل
اللغو ويبدؤ من لقيه بالسلام ويطيل الصلاة ويقصر الخطب الجمعية * ويتألف
اهل الشرف ويكرم اهل الفضل ويمزح ولايقول إلا حقا يحبه الله تعالي ويرضاه *
وههنا وقف بنا جواد المقال عن الطراد في الحلبة البيانية * وبلغ ظاعن
الاملاء في فدافد الإيضاح منتهاه * *

 

Dan adalah Nabi SAW sangat pemalu dan tawadlu’, beliau menjahit
sandalnya, menambal bajunya, memperah kambingnya dan melayani
keluarganya dengan dirinya.  Beliau mencintai orang- orang faqir miskin,
duduk bersama mereka, membesuk mereka yang sedang sakit, mengiring
jenazah mereka, dan tidak pernah menghina orang faqir yang terbakar oleh
kefakirannya.  Beliau mengampuni orang lain, tidak menghadapi seseorang
dengan sesuatu yang ia benci, dan berjalan dengan para janda dan budak.
Beliau sama sekali tidak takut pada raja dan marah karena Alloh dan
ridlo karena di situ ada ridlo Alloh. Beliau berjalan di belakang para
Sahabatnya dan berkata pada merteka, “Biarkan di belakangku ada para
Malaikat yang halus !.” Beliau berkendara onta, kuda, bighol, dan himar
( keledai ) yang di hadiahkan oleh sebagian raja pada beliau. Beliau
membalutkan batu pada perutnya karena saking laparnya, padahal beliau
telah di beri kunci- kunci ekonomi dunia. Pernah pada suatu saat,
gunung- gunung menawarkan padanya untuk berubah menjadi emas, namun
beliau menolaknya.

Dan adalah Nabi SAW sangat sedikit sekali berbuat yang tidak berguna.
Beliau jika bertemu seseorang, maka beliau-lah yang memulai memberikan
salam. Dan jika solat, beliau melakukannya agak lama. Sedangkan jika
berhitbah, maka beliau mempercepatnya. Kepada orang- orang memiliki
kemulyaan, beliau bergaul dengan santai dan kalem. Beliau memulyakan
orang- orang mulya. Beliau juga bergurau, namun tidak berucap kecuali
dengan ucapan yang benar yang di cintai dan di ridloi oleh Alloh.

Di sini, keterangan- keterangan yang mirip dengan kuda yang indah telah
berhenti dari perjalanannya di medan penjelasan. Dan imla’ yang
berangkat sudah sampai garis finishnya.

 

*عطر اللهم قبره الكريم * بعرف شذي من صلاة وتسليم*

*اللهم صل وسلم وبارك عليه*

*اللهم يا باسط اليدين بالعطية * يا من اذا رفعت اليه أكف العبد كفاه * يا
من تنزه في ذاته وصفاته الاحدية * عن ان يكون له فيها نظائر واشباه * يا من
تفرد بالبقاء والقدم والازلية * يا من لا يرجي غيره ولا يعول علي سواه * يا
من استند الأنام إلي قدرته القيومية * وأرشد بفضله من استشده واستهداه *
نسألك اللهم بأنوارك القدسية * التي أزاحت من ظلمات الشك دجاه * ونتوسل
إليك بشرف الذات المحمدية * وبأله كواكب أمن البرية وسفينة السلامة والنجاة
* وبأصحابه أولي الهداية والأفضلية * الذين بذلوا نفوسهم لله يبتغون فضلا
من الله * وبحملة شريعته أولي المناقب والخصوصية * الذين استبشروا بنعمة
وفضل من الله * أن توفقنا في الأقوال والأعمال لإخلاص النية * وتنجح لكل من
الحاضرين والغائبين مطلبه ومناه * وتخلصنا من أسر الشهوات والأدواء القلبية
* وتحقق لنا من الآمال ما بك ظنناه * وتكفينا كل مدلهمة وبلية * ولا تجعلنا
ممن أهواه هواه * وتدني لنا من حسن اليقين قطوفا دانية جنية *وتمحو عنا كل
ذنب جنيناه * وتستر لكل منا عيبه وعجزه وحصره وعيه * وتسهل لنا من صالح
الاعمال ما عز ذراه * وتعم جمعنا هذا من خزائن منحك السنية * برحمة ومغفرة
وتديم عمن سواك غناه * اللهم إنك جعلت لكل سائل مقاما ومزية * ولكل راج ما
أمله فيك ورجاه * وقد سألناك راجين مواهبك اللدنية * فحقق لنا ما منك
رجوناه * اللهم أمن الروعات وأصلح الرعاة والرعية * وأعظم الأجر لمن جعل
هذا الخير في هذا اليوم وأجراه * اللهم اجعل هذه البلدة وسائر بلاد الإسلام
أمنة رخية * واسقنا غيثا يعم انسياب سيبه السبسب ورباه * واغفر لناسج هذه
البرود المحبرة المولدية * سيدنا جعفر من إلي البرزنجي نسبته ومنتماه *
وحقق له الفوز بقربك والرجاء والأمنية * واجعل مع المقربين مقيله وسكناه *
واستر له عيبه وعجزه وحصره وعيه * وكاتبها وقارئها ومن اصاغ اليها سمعه
واصغاه * اللهم وصل وسلم علي اول قابل للتجلي من الحقيقة الكلية وعلي أله
وصحبه ومن نصره ووالاه * ما شنفت الآذان من وصفه الدري بأقراط جوهرية *
وتحلت صدور المحافل المنيفة بعقود حلاه * وأفضل الصلاة وأتم التسليم علي
سيدنا ومولانا محمد خاتم الانبياء والمرسلين * وعلي أله وصحبه أجمعين *
سبحان ربك رب العزة عما يصفون * وسلام علي المرسلين * والحمد لله رب
العالمين **

Ya Alloh, wahai Tuhan yang membentangkan kedua tangan-Nya dengan
pemberian. Wahai Tuhan yang bilamana kedua tapak tangan hamba di angkat
kepada-Nya, maka Dia akan mencukipinya. Wahai Tuhan yang maha suci di
dalam Dzat dan Sifat- Sifat-Nya dari kemiripan dari siapapun. Wahai
Tuhan yang hanya Dia-lah di miliki sifat Qidam, Baqo’, dan Azali. Wahai
Tuhan yang tiada harapan dan tumpuhan hati kecuali pada-Nya. Wahai Tuhan
yang semua mahluk bersandar pada sifat Qdroh dan Qoyyumiyyah-Nya, dan
menunjukkan pada orang yang minta petunjuk dengan anugerah-Nya. Kami
minta pada-Mu dengan cahaya-Mu yang suci yang menghilangkan kegelapan
keraguan. Dan kami membuat perantara kepada-Mu dengan kemulyaan Nabi
Muhammad, para keluarganya yang menjadi bintang di dalam keamanan mahluk
dan menjadi bahtera keselamatan, para Sahabatnya yang memiliki petunjuk
dan kelebihan yang telah menyerahkan diri mereka pada Alloh dengan
tujuan mencari anugera-Nya, dan para Ulama yang membawa Syariat yang
memiliki sifat- sifat yang bagus dan kehususan, kami minta agar Egkau
memberi pertolongan pada kami di dalam ucapan dan amal agar berniat
dengan ikhlas, meluluskan tujuan setiap dari kami, baik yang hadir atau
yang tidak, membersihkan kami dari kungkungan sahawat dan penyakit hati,
merealisasikan pengharapan kami yang telah kami curahkan keyakinan kami
pada-Mu, menjaga kami dari segala cobaan, janganlah jadikan kami orang
yang di hancurkan oleh hawa nafsu, dekatkanlah pada kami keyakinan yang
baik yang mirip dengan buah yang dekat dan siap di petik, hapuslah
segala dosa yang telah kami lakukan, tutuplah setiap dari kami cacat,
kelemahan, hususnya kelemahan di dalam berbicara kami, mudakanlah kami
untuk berbuat amal yang baik, agung dan tinggi, jadikanlah perkumpulan
kami ini rata dengan ramat dan pengampunan dari gudang pemberian-Mu,
jadikanlah kami selalu tidak bergantungan dengan selain Engkau.

Ya Alloh, sungguh Engkau menberikan tingkatan bagi setiap orang yang
meminta pada-Mu da memberikan pengharapan setiap orang yang mengharap
dari-Mu. Sedangkan kami telah meminta-Mu dengan mengharap pemberian yang
langsung dari-Mu. Maka nyatakanlah pengharapan tersebut. Ya Alloh,
berilah kami aman dari segala ketakutan, jadikanlah kami rakyat dan
penguasa yang baik. Besarkanlah pahala bagi orang yang melakukan
kebaikan ini di hari ini. Ya Alloh, jadikanlah negeri ini dan negeri-
negeri Islam aman dan swasembada. Berilah kami hujan yang rata di tanah
yang datar dan tinggi. Ampunilah orang yang menata Burud Maulid ini,
yaitu Sayyid Ja’far, orang yang sebangsa pada Albarzanjy. Jadikanlah
tempat peristirahatannya bersama orang- orang yang dekat dari-Mu.
Berilah kedekatan dan pengharapannya Tutuplahlah cacat, kelemahan dan
khususnya di dalam berbicaranya. Begitu pula orang yang menulis,
membaca, dan orang yang mendengarkannya. Berilah Solawat-Mu pada orang
yang menerima /Tajalli /dari Dzat Tuhan ( ya’ni : Nabi Muhammad SAW ),
para keluarga, dan Sahabat, dan orang- orang yang menolongnya, selama
telinga- telinga masih di gantungi mutiara sifat- sifat kenabian dan
beberapa panggung yang agung di hiasai dengan hiasan- hiasan kenabian.

Solawat yang paling afdlol semoga tercurahkan pada Sayyidina Muhammad
nabi pemungkas, keluarga, dan para sahabatnya.
 

Demikian semoga bermanfaat: salam metal MADINNUHI